Is it too late to talk about emergency fund? Kalau kata orang bijak, nggak pernah ada kata terlambat untuk belajar (selama kita masih hidup). If anything, pandemi kemarin benar-benar bisa kita jadikan wake up call dan pantas banget buat jadi momentum perubahan untuk pengelolaan keuangan kita. So, hands up yang baru-baru ini jadi melek tentang pentingnya punya dana darurat? Ini dia 5 tips yang bisa kamu jalankan untuk sukses punya tabungan dana darurat!

Jangan Mengandalkan Uang

Prinsip pertama, jangan pernah mengandalkan uang dalam kehidupan kita. Cukup wabah COVID-19 yang mengajarkan kita kalau nggak peduli sebanyak apapun pelanggan kita, sebanyak apapun penghasilan dan uang yang kita pegang sekarang, itu semua bukan jaminan kalau ia akan selalu ada buat kita. We don’t control the world, and especially our money won’t be able to control the world too. Karena, yang menguasai dunia cuma Allah Azza wa Jalla, Mudabbirul ‘Amr (pengatur semua urusan). Jadi, dalam urusan apapun, khususnya uang, pastikan kita hanya mengandalkan Allah SWT semata.

Pastikan apapun keadaan kita, sedepresi apapun, sesibuk apapun, kita selalu punya sedikit atau beberapa porsi waktu, tenaga, dan uang yang kita persembahkan hanya untuk Allah SWT, baik dalam rangka syiar Islam maupun secara sembunyi-sembunyi di tengah malam atau pagi buta, baik dalam bentuk zakat, infaq, sedekah, berbakti kepada orangtua, menolong teman yang kesulitan, atau dalam bentuk hal-hal lainnya. That is the realest, truest emergency fund.

“Sesungguhnya, orang-orang yang selalu membaca kitab Allah (Al-Qur’an), mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka, dengan diam-diam maupun terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi. Agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri”

(QS Faathir: 30).

“Perniagaan yang tidak akan merugi” – ini adalah janji Allah untuk orang-orang yang selalu membaca Al-Quran, mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian dari rezeki yang dianugerahkan kepada mereka.

Yes, karena apa ada yang lain lagi selain Allah yang setiap kali kita melakukan/memberi satu, akan mengembalikan kepada kita sepuluh kali lipat? Tentunya nggak ada, karena memang yang mampu memberikan kebaikan yang jauh melebihi apa yang kita berikan itu hanya Allah.

Karena Allah sudah menjanjikan suatu hal yang sangat mahal dan nggak ada yang lain di dunia ini yang bisa ngasih ke kita seperti Allah, pastikan kita juga memberi hal yang sangat mahal kepada Allah – ketulusan kita dalam beribadah.

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik, dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”

(QS An-Nahl: 97).

Juga, jangan sampai kita mengorbankan nilai-nilai Islam, prinsip-prinsip syariat dalam mencari uang. Yakin, kalau kita menolak sesuatu yang nggak sesuai sama syariat Islam dalam rangka takut melanggar ketentuan Allah, Allah akan instantly kirim penggantinya yang jauh lebih baik. You don’t even have to think about it, because it will come in such an unthinkable, unexpected way.

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkannya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu”

(QS Ath-Thalaq: 2-3).

Lawan Kebiasaan Konsumtif  

Satu hal yang menyebabkan kemarin kita sulit membangun dana darurat, adalah karena kebiasaan konsumtif. Pastikan kamu bisa mengubah dulu kebiasaan konsumtif ini. Bagaimana caranya?

Well, kamu bisa mengikuti saran yang diberikan oleh Ken Handersen dan Gatherich team, yaitu dengan memahami bahwa kebiasaan konsumtif ini bisa jadi karena kamu merasakan hormon kebahagiaan yang muncul ketika kamu selesai belanja. Kamu pun jadi pengen bahagia terus dengan cara belanja terus.

Cara melawannya adalah dengan memberikan jiwa dan pikiran kamu outlet yang lain untuk menemukan kebahagiannya tanpa harus mengeluarkan uang, dan tentunya ini harus dilatih. Kamu juga jadi harus mengenal dan memahami diri kamu lebih intim – apa lagi selain belanja yang bisa bikin kamu bahagia, tentram dan nyaman? Sebenarnya kekosongan apa yang lagi kamu coba untuk fulfill dengan belanja? Apa sebenarnya yang kamu butuhkan untuk kebahagiaan batin kamu? Are you trying to escape some deeper problems with non-stop shopping? Mungkin kamu bisa mencoba untuk fokus menyelesaikan masalah kamu sampai ke akar-akarnya dan latihan berhenti mencari distraksi dengan belanja.

Cara lainnya, kamu bisa menerapkan anggaran untuk hal-hal konsumtif yang tetap memungkinkan kamu untuk menabung dana darurat. Misalnya, jika kamu punya penghasilan Rp10 juta per bulan, dan kamu harus bayar utang 20% setiap bulan, maka kamu cuma punya Rp8 juta untuk biaya operasional termasuk dana darurat. Jika kamu punya biaya operasional sehari-hari mencapai Rp5 juta per bulan, dan kamu harus menabung untuk dana darurat Rp2 juta sebulan, maka pastikan dana konsumtif kamu jangan sampai lebih dari Rp1 juta. Jadi intinya, jangan sampai kebiasaan konsumtif kamu menggerus kemampuan kamu untuk menabung dana darurat.

Bangun Kebiasaan Menabung

Belum terbiasa menabung? Well, to be real, memang menabung adalah sesuatu yang harus dibangun untuk menjadi kebiasaan. Apalagi jika kamu merasa selama ini nggak ada urgensi untuk menabung. Tapi, seperti yang kamu lihat selama pandemi, everyone needs to learn how to save money. Sebenarnya waktu yang paling baik untuk belajar menabung adalah kemarin, cuma hari ini pun adalah waktu terbaik kedua. No one is hanging out at cafes and restaurant every weekend. No one is travelling. Now, everyone will totally understand if you say no to spending money. Inilah saat terbaik belajar menabung.

Mulai dengan nilai yang kecil. Misalnya, Rp10 juta dulu. Tetapkan hal ini buat jadi “challenge” pribadi. Kemudian, jika sudah terkumpul Rp10 juta, tambahkan menjadi Rp20 juta, Rp30 juta, Rp50 juta, sampai akhirnya kamu berhasil menabung Rp100 juta. Now, that is some solid emergency fund!

Tentukan target tabungan yang akan kamu sisihkan per bulan. Atau, buat kalendar menabung sampai tujuan kamu tercapai. Setiap hari, kamu pastikan bahwa tidak ada matahari tenggelam kecuali kamu sudah menaruh sedikit uang di tabungan kamu.  Semakin bertambah kuatnya “otot menabung” kamu dan semakin jago kamu menahan diri dari keinginan sesaat ngeluarin uang untuk hal yang nggak penting, siapa tahu semakin cepat target itu bisa tercapai!

Satu hal yang juga bisa buat kamu sukses belajar menabung adalah mengamati teman-teman kamu yang jago menabung. Yes, keistiqomahan kamu menabung bisa jadi sangat dipengaruhi oleh teman-teman kamu. Lihat kebiasaannya: pasti jarang jajan, lebih banyak nyiapin dari rumah . Kalau makan atau beli apapun di luar, nggak pernah berlebih dan seadanya. Jarang mengiyakan undangan yang nggak terlalu penting. Selektif dalam segalanya, mulai dari mikir transportasi apa sampai restoran tempat hang out, dan harga selalu jadi faktor yang dipertimbangkan. Nggak gampang tergoda ajakan main, dan lain sebagainya.

Tentukan Target Dana Darurat Yang Tepat Untuk Kamu

Berapa jumlah target dana darurat yang tepat untuk kamu? Sebenarnya cuma kamu yang tahu seberapa banyak jumlah yang terasa “pas” untuk kamu. Tapi, kalau ingin merujuk kepada para pakar keuangan, kamu perlu menyiapkan sekitar 4 bulan pengeluaran sebagai dana darurat kamu jika kamu masih lajang dan tidak ada tanggungan selain diri kamu sendiri. Kalau kamu sudah menikah tapi belum berkeluarga, kamu harus menyiapkan sekitar 6 bulan pengeluaran sebagai dana darurat kamu. Kalau kamu sudah menikah dengan 1 anak, kamu harus siap setidaknya 9 bulan pengeluaran sebagai dana darurat kamu. Jika kamu sudah menikah dan punya 2 anak atau lebih, atau kamu seorang wirausaha atau freelancer, maka kamu perlu menyiapkan 12 bulan pengeluaran sebagai dana darurat kamu.

Then again, tentunya kita pernah melihat teman-teman single yang mungkin terpaksa harus menganggur lebih dari 6 bulan karena keadaan krisis ekonomi yang sulit. Jadi, kalau memang kamu baru merasa nyaman dengan 12 bulan atau 18 bulan pengeluaran sebagai dana darurat kamu walaupun kamu single dan belum ada tanggungan yang lain, then, go for it.

Nah, sebenarnya bagaimana pengeluaran kamu dalam sebulan itu? Untuk target dana darurat yang tepat, kamu perlu jujur kepada diri sendiri dan memeriksa catatan historis keuangan kamu. Kalau memang kamu butuh the full amount dari salary kamu, jangan ragu untuk mengalikan full gaji kamu untuk 6 atau 12 bulan, atau sesuai lama bulan yang nyaman untuk kamu, sebagai target jumlah dana darurat kamu.  

Konsisten, Jangan Mudah Tergoda

Kuncinya, play for the longterm. Sadari bahwa hal yang sedang kamu bangun ini, kamu biasain ini, adalah hal yang sangat berguna buat kehidupan kamu. Anggap saja ini proyek 10, 20, 30 tahun! Jadi, terus tingkatkan tantangan yang kamu kasih ke diri kamu, dan terus konsisten membangun kebiasaan menabung. Jangan mudah tergoda, walaupun mungkin kamu sudah berhasil mencapai target-target pertama yang kamu tetapkan.

Tapi spiritnya, jangan sampai jadi hoarding money (menumpuk uang karena perasaan tamak/nggak pernah cukup) ya. Spiritnya, niatin bahwa ini adalah usaha kita untuk nggak nyusahin diri sendiri di masa depan, nggak nyusahin orang lain dan keluarga kita, dan untuk menjaga kehormatan dan martabat kita sendiri sebagai seorang Muslim di hadapan orang lain, bahkan ketika kesulitan menimpa kita. Sehingga, kita bisa benar-benar mewujudkan apa yang kita ucapkan di Surat Al-Fatihah, “iyyaka nasta’in”, (hanya kepada-Mu lah kami meminta pertolongan), mewujudkan sebuah kehidupan dimana kita hanya minta sesuatu kepada Allah saja, dan nggak pernah dalam keadaan yang mengharuskan kita untuk meminta kepada sesama manusia.

Selain itu, kalau kamu perhatiin miliarder-miliarder top dunia, mereka disinyalir punya sumber pendapatan setidaknya dari tujuh sumber. Wow… Jadi misalnya, mereka punya beberapa bisnis, terus bisnisnya punya sub-bisnis, lisensi juga, mereka beli properti juga untuk dibisnisin, dan mereka investasi juga di mana-mana, termasuk saham.

Nah, satu hal yang bisa bikin kamu sukses bangun dana darurat lebih cepat adalah dengan bangun sumber pendapatan yang lain selain pendapatan utama kamu. Kamu bisa bikin toko online, ambil freelance job di akhir pekan, belajar bisa jualan biar bisa jadi reseller produk, belajar bisa public speaking atau ngajarin orang supaya jadi pembicara di webinar atau seminar online…the list can go on and on. Kalau kata ulama, selama kita punya skill, punya manner atau akhlak yang baik, dan kita bisa dipercaya untuk amanah dengan pekerjaan, kita pasti nggak akan kekurangan apapun. Kamu juga bisa belajar bangun pendapatan pasif dengan menjadi pendana di P2P financing syariah seperti di ALAMI.

Bedakan juga anggaran pembayaran utang dengan tabungan. Kalau bisa, usahakan banget bahwa kamu membayar utang dengan anggaran/sumber dana yang berbeda dengan yang digunakan untuk tabungan dana darurat.

Tabungan dana darurat itu adalah tabungan yang tidak boleh kamu sentuh kecuali ada keadaan darurat yang mengharuskan kamu menggunakannya. That’s why it’s called “dana darurat”. Jadi kalau misalnya ada hal-hal yang nggak bisa dikategorikan sebagai keadaan darurat, remember, don’t touch it!

Selamat mencoba membangun dana darurat kamu ya. Semoga jika ada kesulitan yang menghadang nanti, kamu jadi nggak stress karena sudah siap untuk semua amunisinya. Best wishes!

ALAMI menyediakan platform peer-to-peer financing syariah di Indonesia yang mempertemukan UKM dengan pemberi pembiayaan. Teknologi kami menganalisa ratusan data untuk menghasilkan pembiayaan yang memiliki kualitas dan kredibilitas yang baik. Daftar sekarang untuk menjadi pendana ALAMI dan nikmati kemudahan proses pembiayaan syariah yang lebih efisien, akurat dan transparan.