Selama bulan Ramadan 2020, ALAMI mengadakan sesi diskusi online #RamadanTetapTangguh yang dibawakan oleh Dima Djani, CEO ALAMI. Sesi diskusi online #RamadanTetapTangguh ini bertujuan memberikan berbagai wawasan yang diperlukan dalam menghadapi realita baru yang hadir di tengah pandemi COVID-19. Dalam episode pertama #RamadanTetapTangguh, ALAMI mengundang narasumber Ustadz Adiwarman Karim, Sharia Advisor ALAMI, untuk membahas topik “Strategi Bisnis di Tengah Pandemi COVID-19”.

Tentang Ustadz Adiwarman Karim

Strategi bisnis dari Ustadz Adiwarman Karim
Ustadz Adiwarman Karim

Ustadz Adiwarman Karim merupakan seorang ikon ekonomi dan keuangan syariah Indonesia. Antusiasmenya dalam mengejar ilmu telah memberikannya gelar Insinyur dari Institut Pertanian Bogor, Sarjana Ekonomi dari Universitas Indonesia, MBA dari European University Belgia, dan M.A in Economic Policy dari Boston University, Amerika Serikat, dan sempat menjadi Research Associate Oxford Center in Islamic Studies di Inggris.

Ustadz Adiwarman meniti karir sebagai bagian dari jajaran manajemen Bank Muamalat Indonesia sebelum mendirikan Karim Consulting, yang membidani lahirnya unit-unit syariah di berbagai bank di Indonesia. Minat yang kuat dan besar untuk berkontribusi dalam bidang keuangan syariah di Indonesia juga ditunjukkannya dengan menjadi penulis lima buku best seller tentang ekonomi Islam dan menulis puluhan makalah tentang ekonomi Islam yang disajikan di berbagai forum nasional dan internasional. Dalam lima tahun belakangan, Ustadz Adiwarman menjabat sebagai Wakil Ketua Badan Pelaksana Harian Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia.

Strategi Bisnis di Tengah Pandemi COVID-19

Pandemi COVID-19 telah membawa tantangan baru kepada para pebisnis di seluruh dunia, tak terkecuali di Indonesia. Hal tersebut membuat banyak pebisnis Muslim di Indonesia juga mulai khawatir tentang rezeki. Dalam kesempatan diskusi kali ini, Ustadz Adiwarman Karim memberikan banyak nasihat dan ilmu yang dapat dijadikan bekal para pebisnis Muslim di Indonesia untuk melewati pandemi COVID-19 dengan baik.

Keyakinan & Ikhtiar

Dalam pembukaannya, Ustadz Adiwarman Karim mengutip sebuah hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Thabrani:

               “…Karena sesungguhnya tidaklah seorang hamba akan mati, hingga ia benar-benar telah mengenyam seluruh rezekinya…”

– H.R. Ibnu Majah no. 2144, Sahih Al Albani.

               “Sesungguhnya ruh qudus (Jibril), telah membisikkan ke dalam batinku bahwa setiap jiwa tidak akan mati sampai sempurna ajalnya dan dia habiskan semua jatah rezekinya.”

– H.R Thabrani Al Mu’jam Al-Kabir 8:166.

Lewat pembahasan hadits tersebut, beliau menekankan bahwa masalah rezeki tidak perlu dipusingkan, karena telah ditetapkan oleh Allah, dan akan mencapai manusia sampai ajalnya tiba. Namun, satu hal yang perlu diingat adalah sebagai manusia, kita wajib untuk tetap berikhtiar sebaik mungkin, dengan apa yang kita tahu dan apa yang kita miliki. Beliau kemudian mengisahkan Hajar (radiyallahuanha), ibunda Nabi Ismail ‘alaihissalam yang tanpa lelah berikhtiar mencari sumber mata air sepanjang bukit Safa dan Marwa’ sampai tujuh kali. Melihat usaha yang dikerahkan Hajar (radiyallahuanha), Allah menghadiahkan rahmat berupa sumber air berlimpah yang penuh keberkahan.

Belajar dari kisah tersebut, beliau menggarisbawahi dua langkah yang dapat diambil oleh para pebisnis Muslim jika berada dalam situasi penuh ketidakpastian. Pertama, harus meyakini bahwa rezeki akan datang. Kedua, harus mengamalkan apa yang kita ketahui sebagai bentuk pengerahan usaha kita, maka Allah akan memberitahu kepada kita apa yang sebelumnya kita tidak tahu.

Ustadz Adiwarman Karim kemudian menjabarkan tiga strategi bisnis yang telah berhasil dijalankan oleh berbagai perusahaan untuk tetap bertahan di tengah pandemi COVID-19. Strategi bisnis ini bisa diterapkan oleh masing-masing pebisnis Muslim sesuai dengan keadaannya, sebagai bagian dari kesungguhan berikhtiar menjemput rezeki yang pasti telah disediakan oleh Allah SWT.

Menjual Produk Sama dengan Kanal Berbeda

Di tengah pandemi COVID-19, ternyata masih ada bisnis yang berhasil mencapai penjualan yang lebih tinggi daripada periode yang sama di tahun sebelumnya. Salah satunya adalah Nike. Sepanjang bulan Desember sampai Februari 2020, Cina mengalami lockdown. Akibatnya, Nike harus menutup 5.000 dari 7.000 toko miliknya di negeri tirai bambu tersebut. Namun, hal tersebut tidak membuat Nike menghentikan operasinya secara total. Lewat kanal digital, Nike menyiapkan konten video athome workouts yang sangat berguna untuk pelanggan, karena mereka tidak bisa berolahraga di luar rumah. Hasilnya? Nike mencatat ada 35 % kenaikan dari penjualan kanal online mereka di Cina, dibandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya.

Menggunakan Infrastruktur Sama untuk Menjual Produk Berbeda

Jika bisnis kita tidak bisa menggunakan kanal penjualan yang berbeda, kita bisa menganalisa apakah memungkinkan untuk mengolah infrastruktur yang ada untuk menjual produk yang berbeda. Seperti misalnya Louis Vuitton Moet Hennessy Group (LVMH), konglomerat barang mewah, mengalihkan infrastruktur lini bisnis parfumnya untuk memproduksi hand sanitizer yang didistribusikan ke rumah sakit dan otoritas kesehatan di berbagai penjuru Perancis, di mana kantor pusat LVMH Group berada.

Selain itu, strategi ini juga dijalankan oleh operator hotel, yang berada di salah satu sektor bisnis yang sangat terpukul oleh pandemi COVID-19, pariwisata. Di Inggris, operator hotel Best Western dan Hilton menawarkan kamar-kamar hotelnya sebagai paket “isolasi diri” untuk mereka yang disinyalir sebagai orang dalam pantauan dan menjualnya ke berbagai rumah sakit untuk menambah kapasitas tempat tidur.

Menjual Produk Sama dengan Infrastruktur Berbeda

Strategi bisnis ini diterapkan oleh perusahaan yang harus menghadapi lonjakan permintaan yang begitu tinggi di tengah pandemi COVID-19. Di Amerika Serikat, hal ini diterapkan misalnya oleh Walmart, yang mengumumkan untuk merekrut sampai ratusan ribu pegawai temporer sebagai tambahan kapasitas.  Salah satu langkah yang dilakukan Walmart adalah memperpendek proses rekrutmen, dari dua minggu menjadi satu hari. Selain itu, Walmart juga menyeru untuk para pekerja industri pariwisata dan restoran yang terkena PHK untuk bergabung dengan Walmart.

Mencari Keberkahan

Slogan “FAST” sering diandalkan oleh pebisnis Muslim di Indonesia sebagai idealisme dalam bekerja. Slogan tersebut berarti Fathanah (bekerja dengan cerdas), Amanah (bekerja dengan menjaga kepercayaan), Shiddiq (bekerja dengan jujur), dan Tabligh (bekerja dengan komunikasi yang baik). Namun, hal tersebut saja kadang tidak cukup. Ustadz Adiwarman Karim mengatakan masih satu hal yang perlu dilakukan: mencari keberkahan. Salah satu cara untuk menggapainya adalah dengan senang hati dan tulus melakukan sedekah, misalnya dengan memberi makanan untuk berbuka puasa. Pebisnis Muslim bisa membuktikan keimanan dan meraih keberkahan rezeki bila mengintegrasikan hal tersebut di dalam operasional bisnisnya.

Untuk pembaca yang ingin mendukung UKM agar terus bertahan di tengah pandemi COVID-19, ALAMI menyediakan platform peer-to-peer financing syariah di Indonesia yang mempertemukan UKM dengan pemberi pembiayaan. Teknologi kami menganalisa ratusan data untuk menghasilkan pembiayaan yang memiliki kualitas dan kredibilitas yang baik. Daftar sekarang untuk menjadi pendana ALAMI dan nikmati kemudahan proses pembiayaan syariah yang lebih efisien, akurat dan transparan.