Agile Leadership: Pelajari 5 Langkah Pintar Dalam Pengambilan Keputusan

0
55
Cerita Hijrah Finansial dari Doktor Keuangan Syariah
Cerita Hijrah Finansial dari Doktor Keuangan Syariah

Agile leadership, atau ketangkasan dalam kepemimpinan, jadi buzzword yang sering banget disebut-sebut dalam masa krisis seperti ini. Agile leadership ini nggak cuma penting buat mereka yang memimpin negara, umat, atau perusahaan. Tapi juga buat semua manusia yang ingin memimpin diri mereka sendiri dengan baik. Nah, salah satu komponen penting dalam agile leadership adalah pengambilan keputusan yang tepat dalam masa-masa genting atau momen krisis.

Pernah denger kan salah satu quote dari John F. Kennedy yang terkenal banget? Isi quote-nya kurang lebih seperti ini nih: “When written in Chinese, the word crisis is composed of two characters. One represents danger, and the other represents opportunity.”

Ternyata sentimen tersebut banyak diyakini oleh figur publik lainnya juga. Seperti misalnya Albert Einstein yang juga bilang “in the midst of every crisis, lies great opportunity.”

Mulai dari politisi sampai ilmuwan, semuanya menyadari ada peluang besar di dalam krisis. Apapun krisis yang kamu hadapi, kamu punya kesempatan besar untuk memenangkan keadaan dengan mengambil keputusan yang tepat. Inilah esensi dari agile leadership.

Bagaimana caranya? Yuk, kita lihat lagi dari kisah hidup John F. Kennedy, presiden Amerika Serikat (AS) yang ke-35, si pencetus quote di atas.

Keputusan Penting JFK

Jauh sebelum kata “quarantine” identik dengan wabah COVID-19, Presiden John F. Kennedy (JFK) sudah menggunakan kata tersebut.

Oktober 1962, JFK mendapat laporan dari mata-mata AS bahwa Uni Soviet tengah diam-diam membangun situs rudal nuklir di Kuba. Tentunya agar suatu hari bisa menyerang AS.

JFK yang tidak ingin Uni Soviet tahu bahwa ia mengetahui rencana mereka, dilema berat. Hebatnya, ia tetap kalem dan tenang. Karena ia tahu betapa pentingnya keputusan yang harus dibuatnya ini, ia tahu ia tidak bisa salah bergerak atau terbawa emosi. Selama hampir dua minggu, JFK terus memikirkan bagaimana keputusan yang harus ia ambil. Taruhannya adalah perang nuklir dunia. Akhirnya, setelah proses pemikiran yang panjang, dan konsultasi terus menerus bersama banyak penasihat, JFK tahu langkah apa yang harus ia lakukan.

Beliau memutuskan untuk “mengkarantina” atau blokade laut perairan sekitar Cuba dengan kapal-kapal laut AS. Uni Soviet tidak bisa lagi membawa peralatan militer masuk ke Kuba. Ia menuntut Uni Soviet untuk menarik semua rudalnya dan menghancurkan situs rudal nuklir tersebut. Jika Uni Soviet setuju, maka ia juga berjanji tidak akan menyerang Kuba. Diam-diam, ia juga membuat perjanjian rahasia bahwa ia akan menarik semua rudal nuklir AS yang ada di Turki.

Nikita Khruschev, pemimpin Uni Soviet kala itu, akhirnya menerima perjanjian tersebut karena sama-sama menyadari besarnya kerusakan yang akan muncul di dunia jika perang nuklir benar-benar terjadi. Efek dari kejadian tersebut, Perang Dingin antara Uni Soviet dan AS mulai mencair.

Juni 1963, JFK menyatakan kepada publik AS bahwa pada akhirnya,

“Our most basic common link is that we all inhabit this small planet. We all breathe the same air. We all cherish our children’s future. And we are all mortal.”

Di tahun yang sama, hidup JFK mendadak terhenti, karena meninggal dunia, tepatnya pada 22 November karena pembunuhan. Namun, tidak sebelum ia menyelesaikan kiprah terbesar dalam hidupnya: menghindari dunia dari bahaya perang nuklir.

Kemampuannya mengambil keputusan yang tepat di saat krisis, membuatnya mampu mengubah keadaan bahaya menjadi sebuah keadaan yang lebih baik.

Keputusan Penting Rasulullah SAW

Mau tahu siapa lagi yang seperti itu? Rasulullah SAW. Bisa dibilang, beliau mungkin yang paling pantas untuk kita jadikan panutan dalam hal agile leadership. Jika JFK mungkin tercatat dalam sejarah membuat satu keputusan besar yang tepat, sejarah Rasulullah SAW bertabur banyak catatan sepanjang hidupnya yang dipenuhi momentum ketika ia berada di dalam krisis, namun mampu mengambil keputusan yang tepat, dan mengubah bahaya menjadi peluang.

Salah satu yang paling besar efeknya tentu saja adalah Perjanjian Hudaibiyah. Tahun 628 H, kaum Muslim ingin memasuki Mekkah untuk melaksanakan ibadah umroh. Mereka sudah bersiap-siap untuk tidak membawa senjata, walaupun terancam. Mereka rela menunggu berkemah berhari-hari di luar perbatasan Mekkah. Namun, kaum Quraish Mekkah tidak memperbolehkan mereka masuk ke Mekkah. Mereka diminta balik ke Madinah tanpa melaksanakan umrah.

Rasulullah SAW memutuskan untuk mengikuti alur Quraish, walaupun Umar ra tidak bisa mengerti alasannya. Rasulullah SAW setuju untuk menandatangani Perjanjian Hudaibiyah dengan kaum Quraish Mekkah. Perjanjian yang dinilai Umar ra terlalu berat menguntungkan kaum Quraish Mekkah.

Salah satu isi perjanjian tersebut adalah, selama 10 tahun kaum Muslimin dan kaum Quraish di Mekkah tidak akan saling berperang satu sama lain. Namun, baru 2 tahun setelah perjanjian ditandatangani, tepatnya pada tahun 630 H, kaum Quraish sudah berkhianat.

Akhirnya, mereka mengirim salah satu utusannya untuk membuat perjanjian baru. Kaum Quraish menyadari kesalahannya dan pengkhianatan mereka akan perjanjian tersebut. Kaum Muslim menolak berdamai dan membuat perjanjian baru, dan Rasulullah SAW mendeklarasikan perang atas kaum Quraish. Rasulullah SAW juga berdoa khusus kepada Allah untuk memudahkan prosesnya.

Tidak lama setelahnya, dengan jumlah tentara Muslim yang besar, Rasulullah SAW akhirnya berhasil masuk ke Mekkah dan menaklukkan Mekkah tanpa tumpah darah. Peristiwa inilah yang disebut dengan Fathu Mekkah (penaklukkan kota Mekkah).

“Siapa yang masuk masjid maka dia aman, siapa yang masuk rumah Abu Sufyan (utusan kaum Quraish Mekkah yang akhirnya memeluk Islam), maka dia aman, siapa yang masuk rumahnya dan menutup pintunya maka dia aman,” begitulah deklarasi yang diumumkan Rasulullah SAW ketika memasuki Mekkah. Sejak hari itu, berbagai suku di Mekkah memeluk Islam, dan Islam pun tersebar di seluruh jazirah Arab dan juga dunia.

5 Langkah Ambil Keputusan Untuk Agile Leadership

Sebagai pemimpin negara, tentu saja skill pengambilan keputusan harus dikuasai oleh Rasulullah SAW dan JFK. Bagaimana dengan kita? Bisakah kita setenang dan sekalem JFK dan sestrategis Rasulullah SAW dalam mengambil keputusan di momen-momen genting hidup kita? Ya, tentu kita harus berusaha sebisa mungkin juga menerapkan prinsip agile leadership mulai dari diri kita sendiri.

Sebagai pemimpin diri masing-masing, pengambilan keputusan adalah juga skill penting yang harus kita miliki, dan yang sebaiknya tidak kita delegasikan kepada siapapun.

Setiap kita mesti tahu langkah-langkah yang pas untuk mengambil keputusan hidup yang membantu kita mentransformasi bahaya menjadi peluang dalam setiap krisis hidup kita.

Islam telah memberikan kerangka berpikir dan langkah-langkah yang dapat kita lakukan dalam setiap pengambilan keputusan kita. Memaksimalkan kemampuan kita untuk melakukan 5 langkah ini akan melejitkan kemampuan agile leadership kita, minimal untuk diri kita sendiri. Apa saja tuh?

Agile Leadership 5 Langkah Pengambilan Keputusan
https://www.twenty20.com/photos/79619772-0ab7-4bff-9cf3-20cf64791bde/?utm_t20_channel=bl

Istikharah

Dalam riwayat Jabir bin Abdullah ra, Rasulullah SAW pernah bersabda: “Jika diantara kalian hendak melakukan perkara/urusan, maka rukuklah (sholatlah) dua rakaat, kemudian berdoa…” (H.R. Bukhari).

Rasulullah SAW mengajarkan sahabatnya untuk melakukan sholat istikharah ini untuk semua urusan. Sholat istikharah ini dilakukan dengan dua rakaat, dan bisa dilakukan di siang hari, sore, atau malam hari, asalkan tidak di waktu-waktu yang dilarang untuk sholat. Jika masih belum yakin, bisa melakukan sholat istikharah ini beberapa kali sampai menemukan jawaban dan keyakinan.

Setelah sholat, Rasulullah SAW juga mengajarkan doa istikharah, yang artinya:

“Ya Allah, sesungguhnya aku meminta pilihan yang tepat kepadaMu, dengan ilmu pengetahuanMu, dan aku mohon kekuasaanMu (untuk mengatasi persoalanku) dengan keMaha KuasaanMu. Aku mohon kepadaMu sesuatu dari anugerahMu Yang Maha Agung, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa, sedang aku tidak kuasa, Engkau mengetahui, sedang aku tidak mengetahui, dan Engkau adalah Maha Mengetahui hal yang ghaib.

Ya Allah, apabila Engkau mengetahui bahwa urusan ini (Orang yang mempunyai hajat hendaknya menyebut persoalannya) lebih baik dalam agamaku, dan akibatnya terhadap diriku sukseskanlah untuk ku, mudahkan jalannya, kemudian berilah berkah.

Akan tetapi apabila Engkau mengetahui bahwa persoalan ini lebih berbahaya bagiku dalam agama, perekonomian dan akibatnya kepada diriku, maka singkirkan persoalan tersebut, dan jauhkan aku daripadanya, takdirkan kebaikan untukku di mana saja kebaikan itu berada, kemudian berilah kerelaanMu kepadaku.”

Berdasarkan doa tersebut, maka kita harus belajar untuk melihat urusan yang dimudahkan oleh Allah sebagai urusan yang diridhoi oleh Allah, dan bahwa kebalikannya pun berlaku, urusan yang disulitkan/dijauhkan oleh Allah, maka bukan keputusan yang baik untuk kita.

Selain istikharah atau berkonsultasi kepada Allah, sebagai manusia kita juga perlu berinteraksi dengan lingkungan sekitar kita. Jadi, Islam juga menyarankan kita untuk melakukan istisyarah, atau musyawarah. Intinya, meminta pendapat orang lain tentang masalah dan keputusan yang kita hadapi. Siapa saja yang bisa dimintai pendapat? Tentunya jangan sembarang orang ya 🙂

Sebaiknya, kita berkonsultasi kepada:

1) ahli agama dan hikmah yang bijaksana, atau seorang ustadz yang paham benar dan salah, baik dan buruk dalam Islam,

2) konsultasi kepada orang yang ahli/menguasai dalam bidang tersebut, dan

3) konsultasi kepada mereka yang sudah berpengalaman pernah menjalani masalah/mengambil keputusan yang sedang kita pikirkan.

Agile Leadership 5 Langkah Pengambilan Keputusan
https://www.twenty20.com/photos/ae89d50a-76ed-400c-aa86-cbaf46e43218/?utm_t20_channel=bl

Konsultasi dengan Ahli Agama & Hikmah

Sebagai orang yang berilmu dan punya pemahaman yang dalam, ulama punya kaidah (prinsip) yang sangat bermanfaat sebagai acuan hidup.

Prinsipnya adalah: “Jangan mengubah keadaan kecuali kita sudah lebih dari 70% haqqul yaqin sesuai dengan alasan-alasan yang nyata dan dapat dipertanggungjawabkan, bahwa keadaan kita akan menjadi lebih baik dengan kita mengubah keadaan tersebut.”

Prinsip ini diungkapkan oleh salah satu ulama Indonesia, Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri, dalam berbagai kesempatan.

Misalnya, kita jomblo. Jangan sampai kita mengubah keadaan, misalnya menikah, sampai kita sudah lebih dari 70% yakin sesuai dengan alasan yang nyata dan dapat dipertanggungjawabkan, bahwa dengan menikah itu keadaan kita akan menjadi lebih baik. Kalau masih fiftyfifty, ya artinya sebaiknya jangan dulu mengambil keputusan yang mengubah keadaan.

Nah, pasti baru tahu kan bahwa ulama ternyata punya kaidah atau prinsip tersebut? 🙂 InsyaaAllah, siapa tahu dengan ngobrol dan konsultasi secara jujur dan terbuka, dengan orang yang ahli agama, bisa membuka wawasan kita dan pikiran kita, atau bahkan hati nurani kita juga, sehingga kita bisa lebih jernih dalam mengambil keputusan.

Agile Leadership 5 Langkah Pengambilan Keputusan
https://www.twenty20.com/photos/79619772-0ab7-4bff-9cf3-20cf64791bde/?utm_t20_channel=bl

Konsultasi dengan Expert Bidang Tersebut

Kalau kita pelajari sirah Rasulullah SAW, beliau selalu berkonsultasi dengan para ahli di bidangnya ketika ingin mengambil keputusan-keputusan yang genting. Misalnya saja, dari sejak awal kenabiannya, ketika Rasulullah SAW baru ‘didatangi’ malaikat Jibril. Ia menerima usul istrinya, Khadijah ra, untuk berkonsultasi dengan Waraqah ibn Naufal. Waraqah adalah sepupu Khadijah ra yang memeluk agama Nasrani dan tekun mempelajari kitab-kitab suci seperti Injil dan manuskrip kuno yang meramalkan datangnya seorang nabi baru. Berdasarkan pengetahuannya selama ini, Waraqah berani mengonfirmasi kenabian Rasulullah SAW dan membesarkan hatinya dan Khadijah ra. Berkat dukungan Waraqah-lah, akhirnya Rasulullah mendapatkan kekuatan pertama untuk mulai menerima takdirnya dan menjalani tugasnya.

Seperti yang dikatakan oleh guru Imam Syafi’i yang bernama Waki’, “ilmu adalah cahaya.” Mengobrol dan berkonsultasi dengan orang yang berilmu terhadap masalah yang kita hadapi akan menjadi penerang kita ketika menentukan jalan mana yang sebaiknya kita ambil.

Agile Leadership 5 Langkah Pengambilan Keputusan
https://www.twenty20.com/photos/79619772-0ab7-4bff-9cf3-20cf64791bde/?utm_t20_channel=bl

Konsultasi dengan Orang yang Berpengalaman

Kemampuan Rasulullah menerima saran dari orang yang berpengalaman dalam menghadapi masalah bisa dilihat dalam kejadian Perang Khandaq. Dalam Perang Khandaq, pasukan Muslim harus menghadapi kekuatan kaum Quraisy yang tidak sebanding, yaitu antara 3.000 pejuang Muslim, melawan 10.000 kaum Quraisy dengan 300 ekor kuda dan 1.500 unta.

Saat bermusyawarah, Salman Al-Farisi yang berasal dari Persia mengungkapkan bahwa ia berpengalaman dalam menghadapi pasukan berkuda. Bagi bangsa Parsi, parit adalah alat pertahanan yang efektif dari serangan pasukan berkuda.

Ide tersebut akhirnya diterima oleh Rasulullah, dan dijalankan pasukan. Selama berhari-hari mereka gotong royong menyiapkan parit yang di lokasi yang terbuka dan dapat dimasuki musuh dengan mudah. Alhasil, pasukan kuda Quraisy gagal total menyerang dengan kuda karena parit yang menunggu.

Kita nggak mungkin melewati semua jenis pengalaman dalam hidup kita sendiri. Dengan sering-sering mendengarkan kisah orang yang lebih berpengalaman dalam kasus yang sedang kita hadapi, kita bisa lebih efektif dalam menjalani hidup dan mengambil keputusan.

Kalau kita bisa belajar dari pengalaman orang lain, kenapa harus belajar dari kesalahan sendiri? Nggak perlu, kan?

Agile Leadership 5 Langkah Pengambilan Keputusan

Tawakkal ke Allah

Di Quran Surat Ali-Imran ayat 159, Allah mengatakan “…Dan apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah.”

Setelah langkah 1 – 4 kita tempuh dengan sebaik-baiknya, saatnya membulatkan tekad dan yakin dengan keputusan yang kita ambil. Penutup yang menemani kebulatan tekad kita adalah tawakkal.

Secara bahasa, tawakkal artinya mewakilkan atau menyerahkan. Sehingga intinya, kalau kita sudah mengambil keputusan sebaik-baiknya sesuai langkah 1-4, langkah terakhir adalah menyerahkan hasil akhir dan akibat keputusan itu sepenuhnya kepada Allah.

Masih kurang bisa berserah diri sama Allah? Kita bisa memperbanyak zikir Hasbunallah wa ni’mal wakil, ni’mal maula wa ni’man nashir, yang menjadi bagian dari zikir pagi dan petang juga.

Deklarasikan kepada diri kita bahwa “Cukuplah Allah untukku, dan Allah adalah sebaik-baik Wakil, Pelindung dan Penolong”.

Sama dengan cara kerja konsep affirmation, dzikir kalimat tersebut jika dilakukan secara rutin dan terus menerus, akan menjadi peneguh hati kita untuk yakin dengan langkah yang kita ambil, apapun krisisnya yang sedang kita hadapi.

Yuk, lakukan pendanaan untuk UKM dengan prinsip syariah dan didukung proses yang nyaman, aman, dan efisien dengan teknologi. Platform peer-to-peer financing syariah ALAMI mempertemukan UKM dengan pemberi pembiayaan. Teknologi kami menganalisa ratusan data untuk menghasilkan pembiayaan yang memiliki kualitas dan kredibilitas yang baik. Daftar sekarang untuk menjadi pendana ALAMI dan nikmati kemudahan proses pembiayaan syariah yang lebih efisien, akurat dan transparan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here