Selama bulan Ramadan 2020, ALAMI mengadakan sesi diskusi online #RamadanTetapTangguh yang dibawakan oleh Dima Djani, CEO ALAMI. Sesi diskusi online #RamadanTetapTangguh ini bertujuan memberikan berbagai wawasan yang diperlukan dalam menghadapi realita baru yang hadir di tengah pandemi COVID-19. Dalam episode keenam #RamadanTetapTangguh, ALAMI mengundang dr. Gina Anindyajati dari Dept. Psikiatri FKUI-RSCM untuk membahas tentang kesehatan jiwa dan cara-cara mengatasi stress. dr. Gina Anindyajati menyelesaikan studi Kedokteran Umum di Universitas Gadjah Mada, kemudian mengambil studi spesialis Kesehatan Jiwa di Universitas Indonesia. Saat ini, dr. Gina berpraktik sebagai psikiater untuk institusi kesehatan pemerintah dan swasta.

dr. Gina Anindyajati membahas tentang kesehatan jiwa dan cara mengatasi stress
dr. Gina Anindyajati, Dept. Psikiatri FKUI – RSCM

Kesehatan Jiwa & Kemampuan Mengatasi Stress

Sama dengan kesehatan fisik, kita bisa melihat keadaan kesehatan jiwa dalam sebuah spektrum. Ada saatnya kita sangat bugar dan mampu menghadapi tantangan yang berat. Ada saatnya kita lelah atau butuh istirahat, kurang enak badan tapi tidak sampai sakit. Ada saatnya kita begitu sakit sehingga membutuhkan perawatan intensif hingga harus masuk rumah sakit, dirawat dan diopname. Bagaimana kita bisa mendeteksi keadaan kesehatan jiwa kita sedang berada di spektrum bagian mana?

Ketika kesehatan jiwa kita dalam keadaan baik dan bugar, kita bisa menyelesaikan masalah, produktif, dan bisa berkontribusi dengan baik kepada sekeliling kita.

Ketika jiwa kita mulai memasuki tahap bermasalah, kita mungkin tidak fully OK, tapi tidak sampai tahap sakit. Kita masih bisa berfungsi, tapi membutuhkan curhat, mendapatkan support, dan sebagainya. Tanda ketika kita berada di tahap ini adalah misalnya, kita sulit mengatasi masalah, merasa tertekan, stress, atau burnt out, sulit mengambil keputusan, gampang bingung, dan butuh bantuan-bantuan dari sekitar kita untuk menjalani keseharian kita.

Ketika kita mulai mendapatkan gangguan, tandanya kita mulai tidak bisa berfungsi dengan baik sehari-hari. Kita tidak bisa produktif, tidak bisa melakukan pekerjaan, tidak bisa berkontribusi, dan tidak bisa menyelesaikan masalah kita sendiri. Kita bahkan tidak bisa mengurusi diri kita sendiri.

Efek Pandemi COVID-19 Terhadap Kesehatan Jiwa

Di awal-awal kita menghadapi efek pandemi COVID-19, mungkin banyak yang merasa bahagia dengan mendapatkan kesempatan bekerja dari rumah. Namun, memasuki minggu ke-3 dan selanjutnya, kita mulai merasakan berbagai kehilangan, misalnya harus melepaskan rutinitas yang sudah terbentuk sejak lama, kita mulai merasa kehilangan kesempatan untuk melepaskan agresivitas atau emosi kita, semakin berkurangnya kesempatan me time yang dimiliki, dan hilangnya kontak sosial yang bisa kita dapatkan dari kesempatan bertemu orang lain, dan manfaat yang bisa kita dapatkan dari hal tersebut. Hal-hal tersebutlah yang membuat banyak orang kemudian merasakan stress atau tekanan terhadap jiwanya. Walaupun begitu, manusia mampu untuk beradaptasi sesuai dengan keadaannya dan dr. Gina percaya bahwa kita akan selalu bisa mengekspresikan kreativitas sebagai manusia dalam menemukan solusi.

Menjaga Kesehatan Jiwa dengan Pasangan

Ketika kita harus berada di rumah dalam jangka waktu yang panjang dan terus menerus bersama pasangan kita, terkadang hal tersebut memacu konflik untuk terjadi. Konflik ini berpotensi untuk menimbulkan masalah yang lebih besar, atau tekanan terhadap kesehatan jiwa kita, jika kita tidak mampu untuk mengatasinya dengan baik.

Salah satu cara yang dianjurkan oleh dr. Gina ketika kita sedang dalam konflik bersama pasangan, adalah dengan memeriksa reaksi yang kita keluarkan atau emosi yang kita miliki. Apakah reaksi tersebut karena hal yang sedang terjadi atau konflik yang dihadapi sekarang? Atau sebenarnya reaksi dan emosi tersebut adalah pelampiasan dari hal yang lain, yang berbeda?

Kita harus mengenali apakah kita sedang kesal dengan pasangan, ataukah kita sedang kesal dengan hal yang lain, namun kita lemparkan ke pasangan kita? Karena itu, kita harus bisa mengenali apa yang sebenarnya kita pikirkan ketika kita mengeluarkan reaksi tersebut.

Cara lainnya, kita bisa memeriksa kembali apakah reaksi kita dalam konflik tersebut cukup efektif untuk tujuan yang kita inginkan. Jika memang belum efektif, kita sebaiknya mulai memikirkan cara lain yang lebih pas.

Kita juga bisa memutuskan untuk “take a break”, misalnya dengan pause sejenak, wudhu, mengubah posisi kita (misalnya dengan duduk jika kita sedang berdiri, atau berbaring jika kita sedang dalam keadaan duduk), dan berhenti sejenak untuk memikirkan bagaimana cara yang baik dan efektif dalam berkomunikasi.

Komunikasikan Kesehatan Jiwa ke Psikolog/Psikiater

Kita disarankan untuk mulai memeriksakan diri ke psikolog atau psikiater ketika kita sudah mencapai tahap gangguan kesehatan, misalnya tertekan, mulai kurang mampu berfungsi sehari-hari, mulai banyak yang terbengkalai dalam hidup kita, tidak bisa menyelesaikan masalah, dan sebagainya.

Namun, sama seperti kesehatan fisik, kesehatan jiwa pun memiliki tanda-tanda keadaan “gawat darurat.” Jika kita sudah mulai melakukan tindakan yang membahayakan diri sendiri ataupun orang lain, misalnya dengan berhenti makan untuk berhari-hari, selfharm, percobaan bunuh diri, dan sebagainya, maka hal tersebut sudah membutuhkan intervensi psikiater secepatnya. Jika masalahnya lebih ringan dan tidak membahayakan secara langsung, misalnya sedih berlarut-larut, sulit tidur, lemas, berkurang selera makan, dan sebagainya, kita bisa mulai dengan berkonsultasi ke psikolog.

Semoga kita semua dimudahkan untuk menjaga kesehatan jiwa kita dengan baik selama masa yang sulit di tengah pandemi COVID-19 ini dan juga selanjutnya.