Dengan adanya peningkatan industri fintech P2P yang cukup pesat dalam beberapa tahun terakhir, Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) bekerjasama dengan Asosiasi Fintech Indonesia melakukan penelitian yang berusaha mengungkap dampak industri fintech P2P untuk perekonomian Indonesia. Laporan tentang dampaknya sendiri sudah dirilis pada akhir tahun 2019 kemarin. Tapi, kamu sudah tahu belum bagaimana isi laporannya?

Ternyata, hanya dalam jangka waktu yang cukup sebentar, industri ini sudah mampu menyumbangkan kontribusi yang nyata untuk meningkatkan perekonomian Indonesia.

Apa saja maksudnya? Well, mulai dari penyerapan tenaga kerja yang cukup signifikan, peningkatan pemerataan dalam penyebaran pinjaman usaha, bahkan sampai mengurangi koefisien Gini Indonesia, yang artinya, sudah mengurangi ketimpangan ekonomi di Indonesia, dan berkontribusi meningkatkan pemerataan pendapatan di Indonesia. Yuk, simak pembahasannya lebih lanjut di artikel ini!

Meningkatkan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia

Dalam jangka waktu pengembangan dua tahun, industri fintech P2P mampu menyumbangkan kenaikan Produk Domestik Bruto atau PDB Indonesia sebesar Rp25,97 triliun, atau sekitar 0,198% dari PDB Indonesia. PDB atau yang dikenal juga dengan istilah Gross Domestic Product (GDP) merupakan indikasi makro ekonomi yang penting untuk menunjukkan jumlah nilai tambah atas barang dan jasa yang dihasilkan oleh berbagai unit produksi di wilayah suatu negara dalam satu waktu tertentu. Angkanya akan menginformasikan kondisi ekonomi suatu negara dan menunjukkan pendapatan negara dalam satu waktu tertentu. Peningkatan ini disebabkan oleh adanya stimulus dari investasi fintech P2P kepada sektor jasa perbankan, jasa keuangan perbankan, jasa perusahaan, jasa dana pensiun, dan sektor informasi dan komunikasi.  

Meningkatkan Konsumsi Rumah Tangga

Pengembangan fintech P2P efektif meningkatkan konsumsi rumah tangga bertambah sebesar Rp8,94 triliun. Penambahan konsumsi ini terutama pada sektor pengadaan listrik, kemudian pada sektor perdagangan dan jasa keuangan lainnya. Hal tersebut tentu saja karena penggunaan laptop, handphone dan gadget lainnya, dan konektivitas Internet yang diperlukan untuk melakukan transaksi fintech P2P sangat bergantung pada aliran listrik yang tersedia. Konsumsi rumah tangga sendiri menjadi sekitar 56 persen dari komponen keseluruhan PDB Indonesia. Artinya, dengan adanya penambahan Rp8,94 triliun di konsumsi rumah tangga, turut berkontribusi juga pada pertumbuhan ekonomi negara ini.

Penyerapan Tenaga Kerja

Menurut penelitian ini, fintech P2P berhasil melakukan penyerapan tenaga kerja sebanyak 215.433 orang tenaga kerja baik langsung maupun tidak langsung. Industri ini telah menyumbang pendapatan/upah/gaji kerja nasional sebesar Rp4,56 triliun.  

Masyarakat mulai dari petani, pedagang, dan pengusaha mendapatkan kenaikan pendapatan dan modal juga karena berkembangnya industri fintech ini.

Penyerapan tenaga kerja ini tidak hanya terdapat di industri fintech P2P. Namun, penyerapan tenaga kerja juga terjadi di sektor-sektor yang diuntungkan dari adanya fintech P2P.

Seperti misalnya, sektor asuransi dan perbankan, jasa aplikasi, sektor perdagangan dan sektor pertanian yang sangat diuntungkan dengan adanya akses ke modal yang ditawarkan oleh fintech P2P.

Diprediksikan oleh laporan ini bahwa sektor pertanian akan semakin potensial untuk dikembangkan, karena adanya fintech P2P, dan hal tersebut membuat penyerapan tenaga kerja di sektor ini cukup signifikan.

Mengurangi Koefisien Gini Indonesia

Adanya penyaluran dana dan investasi pada fintech P2P secara keseluruhan diestimasikan dalam penelitian ini bisa mengurangi koefisien Gini, dari 0.382 menjadi 0.380.

Koefisien Gini adalah indeks yang mengukur ketimpangan pendapatan di satu negara, dengan skala 0 yang berarti kemerataan sempurna sampai 1 yang berarti ketidakmerataan sempurna.

Fintech P2P berpotensial mengurangi ketimpangan pendapatan penduduk di suatu negara karena telah mendemokratisasi aliran dana modal untuk sektor-sektor ekonomi yang berpengaruh besar terhadap kemiskinan, seperti pertanian dan perdagangan.

Selain itu, penelitian ini juga mengungkapkan bahwa ada estimasi penurunan persentase kemiskinan sebanyak 0,17% atau sekitar mengurangi jumlah penduduk miskin sebesar 117.000 orang. Not bad! Cause, small steps, right?

Pemerataan Akses Pembiayaan Untuk UKM

Last but not least, fintech P2P juga sudah berdampak meningkatkan penyebaran akses pembiayaan fintech untuk UKM sampai ke wilayah di luar Jawa, yang naik sebesar 107%. Hal ini juga berdampak positif untuk pertumbuhan ekonomi Indonesia seluruhnya.

Itu adalah hasil dari pengembangan hanya dua tahun terakhir, dengan adanya lonjakan pengembangan yang begitu nyata di industri fintech P2P selama 2018 – 2019. Bagaimana dengan tahun-tahun setelahnya, jika industri fintech P2P terus berkembang lebih pesat lagi? Well, like they say all around the Internet, “I do not trust words, I even question actions. But I never doubt patterns.” Jika polanya akan terus seperti ini, hasilnya untuk Indonesia pun akan jauh lebih positif dan lebih nyata lagi.  

Mau baca selengkapnya? Kamu bisa download sendiri hasil risetnya di website INDEF, tepatnya disini.

Sudah siap turut berkontribusi untuk peningkatan perekonomian Indonesia lewat pembiayaan untuk UKM?

Yuk, lakukan pendanaan untuk UKM dengan prinsip syariah dan didukung proses yang nyaman, aman, dan efisien dengan teknologi. Platform peer-to-peer financing syariah ALAMI mempertemukan UKM dengan pemberi pembiayaan. Teknologi kami menganalisa ratusan data untuk menghasilkan pembiayaan yang memiliki kualitas dan kredibilitas yang baik. Daftar sekarang untuk menjadi pendana ALAMI dan nikmati kemudahan proses pembiayaan syariah yang lebih efisien, akurat dan transparan.