Peristiwa Isra’ Miraj menjadi hadiah atau hiburan dari Allah SWT kepada Muhammad SAW. Karena beliau sedang silih berganti ditimpa kesedihan dan ujian begitu dalam. Momen saat itu bahkan disebut sebagai tahun kesedihan.

Pertama, Istri yang sangat dicintainya, Khadijah meninggal dunia. Kedua, paman yang selalu membela Rasulullah ketika berdakwah, juga meninggal dalam waktu berdekatan. Ditambah lagi bujukan Rasulullah untuk mengajak pamannya menerima Islam tidak berhasil. Membuat Rasul terisak begitu dalam sampai turun firman Allah QS. At-Taubah: 113.

Kedudukan Rasul menjadi terpojok. Kehilangan pamannya membuat Rasul tidak memiliki orang yang melindunginya dari hinaan dan serangan kaum kafir Quraisy. Membuat dakwah Rasul menjadi semakin sulit.

Maka pergilah Rasul ke Thaif dengan harapan mereka mau menerima. Bukan jamuan yang baik diterima, tetapi cacian dan lemparan batu bahkan oleh anak-anak kecil. Membuat Rasul terluka berdarah cukup parah terutama bagian kakinya.

Cobaan Rasulullah begitu berat. Namun beliau tidaklah marah. Bahkan ketika Jibril datang menawarkan untuk membalikkan Gunung Tha’if kepada kaum yang telah memperlakukan Rasul seperti itu, ia menolaknya. Dan berdoa yang salah satu kutipannya,

”Asalkan Engkau tidak murka kepadaku, aku tidak peduli sebab sungguh luas kenikmatan yang Engkau limpahkan kepadaku. Aku berlindung kepada nur wajah-Mu yang menyinari kegelapan dan karena itu yang membawa kebaikan di dunia dan akhirat dari kemurkaan-Mu dan yang akan Engkau timpakan kepadaku….”

Sungguh luar biasa kesabaran hati Rasulullah SAW. Dengan begitu banyaknya cobaan yang diterima, tidak berubah emosinya meski sudah diizinkan untuk dibalaskan penderitaan tersebut.

Baca Juga  Bulan Dzulhijjah yang Bertabur Kesakralan

Bila kita mencontoh Rasul maka sudah sepatutnya kita sabar menghadapi ujian wabah penyakit Corona. Mungkin Allah memang sedang menguji. Dan siapa yang mampu melewati ujian dengan kesabaran Allah janjikan dengan pahala. Sebagaimana dalam suatu hadist dikatakan bila bersabar penuh keimanan menghadapi wabah penyakit dan meninggal karena wabah tersebut maka matinya adalah syahid.

Setelah Muhammad menghadapi berbagai ujian, Allah hadiahkan kepadanya perjalanan Isra’ Miraj. Yaitu mukjizat yang diberikan sehingga Rasul dapat pergi ke Baitul Maqdis lalu kelangit ketujuh (Sidratul Muntaha).

“Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Alam-Nasyroh: 6)

Allah muliakan Rasulullah SAW dalam perjalanan Isra’ Miraj diantaranya:

  1. Jibril mendatangi Rasulullah yang sedang berbaring di Masjidil Haram. Hati Rasulullah dikeluarkan dan dicuci dengan air zamzam kemudian dikembalikan ketempatnya dipenuhi dengan iman dan hikmah.
  2. Ketika tiba di Baitul Maqdis Rasulullah berjumpa dengan para nabi dan menjadi imam shalat diantara mereka.
  3. Hanya kepada Rasulullah saw satu per satu pintu langit dibukakan dan ia berjumpa secara langsung kepada para nabi dan saling bercakap diantaranya. Disamping itu ditampakkan pula orang yang sedang disika karena dosanya dan orang yang berbahagia karena keimanannya.
  4. Allah izinkan Rasulullah yang tiada makhluk lain diziinkan untuk sampai ke Sidratul Muntaha.  Tempat yang begitu indah dan Rasul berjumpa dengan Allah SWT.

Begitulah cara Allah SWT menghibur Rasulullah dipuncak kesedihan dan ketidakberdayaan. Allah undang dalam perjalanan Isra’ Miraj sebagai ketabahan Rasulullah menerima ujian.

Baca Juga  Idul Adha sebagai Momen Pengorbanan dan Kepedulian

Masyarakat dunia saat ini sedang diuji dengan wabah penyakit yang menyebar begitu masif. Sebagai seorang yang beriman sudah sepatutnya kita sabar dalam menghadapi ini. Dan percaya bahwa Allah sedang menyiapkan hadiah bagi hambanya yang sabar dalam menghadapi ujian.

Sebagaimana Allah hadiahkan Isra’ Miraj dengan memuliakan Rasulullah SAW. Aamin.

Referensi: