Bulan Ramadan adalah bulan penuh pahala, di mana setiap amalan ibadah akan dilipatgandakan pahalanya oleh Allah SWT. Selain itu, di bulan Ramadan ada suatu malam di mana setiap amalan ibadah akan lebih baik dari pada ibadah selama seribu bulan. Malam itu disebut lailatulqadar, yang disebutkan ada di 10 hari terakhir. Selama 10 hari terakhir Ramadan, beberapa orang biasanya memaksimalkan amal ibadahnya dengan melakukan i’tikaf di masjid. 

Di artikel ini kita akan bahas mengenai serba-serbi itikaf mulai dari Itikaf apa artinya hingga tata cara, hukum dan siapa saja yang boleh melaksanakan itikaf. 

I’tikaf Apa Artinya?

Itikaf merupakan kegiatan amalan berdiam diri di masjid dan melakukan kegiatan amalan lainnya di dalam masjid seperti tadarus Al-Qur’an hingga qiyamulail shalat malam.  Sebenarnya i’tikaf dapat dilakukan setiap saat, tetapi khususnya di bulan Ramadan i’tikaf lebih dianjurkan. Itikaf di bulan Ramadan dianjurkan terutama di sepuluh malam terakhir.

Hadis Rasulullah SAW menyebutkan bahwa itikaf di sepuluh malam terakhir bulan Ramadan bagai beritikaf dengan beliau (Rasulullah SAW).

مَنِ اعْتَكَفَ مَعِي فَلْيَعْتَكِفَ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ

“Siapa yang ingin beri’tikaf bersamaku, maka beri’tikaflah pada sepuluh malam terakhir.” (HR Ibnu Hibban).

Hukum, Rukun, Syarat hingga Tata Cara I’tikaf

Dikutip dari website Nahdlatul Ulama, islam.nu.or.id, dalam pelaksanaan i’tikaf ada beberapa sayarat dan rukun yang harus dijalani. Selain itu, kamu juga harus mengetahui hukum dari pelaksanaan i’tikaf di masjid bagaimana, berikut ini penjelasannya:

1. Hukum I’tikaf

Hukum itikaf asalnya sunnah, tetapi dapat menjadi wajib jika dinazarkan oleh seseorang. Hukum itikaf juga dapat menjadi haram apabila dilakukan oleh seorang istri tanpa izin suaminya. Hukum itikaf menjadi makruh jika dilakukan oleh berperilaku atau berdandan sehingga mengundang perhatian orang lain sehingga bisa mengundang fitnah walaupun telah disertai izin.

Baca Juga  Simak 5 Dampak Fintech P2P Untuk Perekonomian Indonesia

2. Rukun I’tikaf

Adapun 4 rukun i’tikaf yang harus dikerjakan di saat melaksanakannya, 

1. Niat

2. Berdiam diri di masjid (sekurang-kurangnya selama tuma’ninah shalat)

3. Masjid, namun di mazhab hanafi bagi perempuan dibolehkan untuk i’tikaf di rumah

4. Orang yang beri’tikaf

3. Syarat I’tikaf

Syarat orang yang melaksanakan itikaf:

1. Islam

2. Berakal Sehat

3. Bebas dari Hadas Besar

Jadi, orang yang melaksanakan itikaf tetapi tidak memenuhi syarat-syarat yang disebutkan di atas, maka dianggap tidak sah. Itikaf di bulan Ramadan membantu kita untuk mengevaluasi diri. Dengan itikaf kita akan berfokus pada diri kita dan menjauhi kesombongan.

Keutamaan I’tikaf

Kenapa I’tikaf ini sangat dianjurkan? Karena ada beberapa keutamaan pada saat menjalankannya. Mulai dari memperbanyak pahala hingga mendapatkan malam seribu bulan atau lailatulqadar. Berikut ini adalah keutamaan dari menjalankan i’tikaf di 10 hari terakhir bulan Ramadan.

1. Menggapai Lailatulqadar

Salah satu keutamaan menjalankan amalan itikaf adalah mendapatkan lailatulqadar yang dipercaya hadir pada 10 hari terakhir bulan Ramadan. Siapa pun yang mengerjakan amal ibadah di saat lailatulqadar, maka akan mendapatkan pahala yang jumlahnya sama dengan ibadah selama seribu bulan.

Ada hadis yang disebutkan oleh Ibnu Hajar Al Asqolani dalam kitab beliau Bulughul Marom, yaitu hadis no. 699 tentang permasalahan itikaf.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ:- أَنَّ اَلنَّبِيَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَعْتَكِفُ اَلْعَشْرَ اَلْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ, حَتَّى تَوَفَّاهُ اَللَّهُ, ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ – مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Baca Juga  Berikan Perhatian Terbaik Untuk Pendana ALAMI Bersama Thia Gustiasya, Funding Manager

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam biasa beritikaf di sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan hingga beliau di wafatkan oleh Allah. Lalu istri-istri beliau beritikaf setelah beliau wafat. (HR. Bukhari no. 2026 dan Muslim no. 1172)

2. Mendapatkan Pahala Setiap Saat

Berdiam diri di masjid dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah bisa juga dengan mendirikan shalat, tilawah, zikir, berdoa, bermunajat, tadabbur, tafakur atau mengkaji ilmu. Bahkan dalam kondisi tidur pun, orang yang beritikaf mendapatkan pahala yang besarnya tidak bisa didapatkan oleh orang yang tidur di rumah. Sebab tidurnya itu termasuk rangkaian itikaf.

3. Sunnah Rasul

Itikaf pada 10 hari terakhir Ramadan merupakan sunnah Rasulullah SAW. Bahkan di Ramadan terakhir sebelum wafat, Rasulullah beritikaf selama 20 hari. Demikian pula istri beliau dan para sahabat Nabi. Mereka beritikaf 10 hari terakhir Ramadan. Setelah Rasulullah wafat, istri-istri beliau juga melaksanakan itikaf pada 10 hari terakhir Ramadan. 

Manfaatkan 10 Hari Terakhir Ramadan dengan Memperbanyak Amal Ibadah

Di 10 malam terakhir Ramadan ini bisa menjadi kesempatan bagi kamu untuk memperbanyak kegiatan amal ibadah. Sebab di 10 malam terakhir ini dan bahkan di malam-malam ganjil, Allah akan menurunkan malam lailatulqadar, malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Ada berbagai macam kegiatan amal ibadah yang bisa kamu lakukan untuk memperbanyak pahala. Seperti membaca Al-Qur’an dan bersedekah membantu sesama. 

Baca Juga  Begini Asal Mula Tradisi Ngabuburit di Indonesia

1. Membaca Al-Qur’an

Membaca Al-Qur’an merupakan amalan yang sangat dianjurkan di bulan Ramadan. Sebab, bulan Ramadan ini merupakan bulan diturunkannya Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW, tepatnya pada malam 17 Ramadan. Nah, untuk mempermudah kamu membaca dan mengamalkan tadarus atau membaca Al-Qur’an kapan pun dan di mana pun – sesuai dengan adab yang benar – ALAMI Mobile App kini tersedia Al-Qur’an digital. 

Dengan Al-Qur’an ALAMI Mobile App kamu bisa membacanya setiap saat seperti di sela-sela pekerjaanmu, mengantre atau sedang dalam transportasi menuju tempat bekerja. Al-Qur’an digital yang ada di ALAMI Mobile App lebih mudah dengan pembagian per juz. Jadi jika kamu ingin mengkhatamkan Al-Qur’an bisa dimulai per juz. 

2. Infak dan Sedekah 

Amalam yang tak kalah penting lainnya adalah memperbanyak infak dan sedekah. Selain menambah pahala, infak dan sedekah juga bisa memberikan kebahagiaan bagi orang lain. 

Selain itu infak dan sedekah merupakan amalan yang pahalanya tak terputus dan terus mengalir meskipun sudah meninggal. 

Untuk itu juga ALAMI mengajak kamu untuk ikut bersedekah bersama ALAMI. Pada bulan suci Ramadan ini ALAMI menyediakan kesempatan kamu untuk berinfak dan bersedekah. Melalui program #ALAMIKebaikanBersama, kamu punya kesempatan untuk turut berkontribusi memberikan 1000 Pax (@Rp25.000) Makanan Berbuka Puasa untuk Anak-anak Yatim Dhuafa Penghafal Quran. 

Caranya gampang banget, kamu tinggal klik bit.ly/ALAMIxKitabisa1, nanti kamu akan diarahkan ke halaman campaign ALAMI di kitabisa.com. Kemudian klik donasi sekarang, lalu masukkan jumlah donasimu. Ayo saatnya berbagi untuk mewujudkan cita-cita mereka menjadi penghafal Al-Qur’an!