Surat atau warkat yang isinya berupa perintah tak bersyarat dari nasabah kepada bank untuk membayarkan sejumlah uang yang nominalnya tertera pada surat tersebut.

CEK

Cek merupakan alat pembayaran yang cukup sering digunakan sejak dulu. Cek biasanya digunakan untuk transaksi dalam jumlah besar. Penerima cek bisa mencairkan dananya dengan mendatangi langsung ke bank yang tertera dalam dokumen tersebut.

Pembayaran menggunakan cek pertama kali pada tahun 352 Sebelum Masehi (SM) di Romawi, namun baru tahun 1500 ditemukan bukti nyata adanya transaksi menggunakan cek di Belanda, kemudian berkembang ke Inggris sekitar tahun 1700-an. Salah satu bank memberikan nomor seri di sudut kanan atas cek agar bisa melacak keberadaan cek tersebut, dan dari sanalah asal kata “cheque”.

Sejarah cek kemudian juga erat kaitannya dengan sistem kliring yang banyak digunakan sekarang. Kala itu para pembaca cek yang merupakan kurir kerap saling berkumpul agar pengambilan cek lebih efisien. Mereka saling bertukar cek yang berkaitan. Pengumpulan cek adalah asal muasal sistem kliring saat ini.

Apa Itu Cek?

Cek adalah surat atau warkat yang isinya berupa perintah tak bersyarat dari nasabah kepada bank untuk membayarkan sejumlah uang yang nominalnya tertera pada surat tersebut. Bisa dibilang merupakan surat berharga yang dapat digunakan sebagai alat tukar uang. Untuk memilikinya, kamu perlu membuka rekening giro di bank.

Tingginya risiko dalam membawa uang tunai dalam jumlah besar memang jadi alasan utama hadirnya cek. Cek juga dianggap sebagai surat berharga yang memiliki kegunaan seperti uang, dapat dijadikan alat tukar dan alat pembayaran, meskipun berbentuk surat.

Penggunaan cek sendiri telah diatur di dalam regulasi negara, sehingga tidak perlu khawatir jika menerima pembayaran dalam bentuk cek. Hanya saja tentunya ada syarat dan ketentuan yang berlaku untuk jenis cek yang valid dan bisa diterima sebagai alat pembayaran.

Aturan Penggunaan Cek

Saat ini alat pembayaran yang lazim digunakan berupa transfer bank atau kartu kredit. Namun untuk kebutuhan tertentu, misalnya produksi dan bisnis, cek merupakan pilihan pembayaran yang paling banyak dan tepat untuk digunakan.

Pengaturan cek sendiri, telah diatur dalam pasal 178 sampai dengan 229 KUH Dagang. Lalu terdapat tambahan penjelasan yang dimuat dalam Surat Edaran Bank Indonesia. Pada pasal 178 KUH Dagang telah ditentukan syarat cek sebagai surat berharga meliputi beberapa hal, diantaranya:

  • Nama cek harus tertulis dalam huruf teks yang jelas
  • Surat cek harus berisi perintah tidak bersyarat dalam membayar sejumlah uang kepada orang tertentu
  • Nama bank yang akan membayar harus terlihat jelas
  • Terdapat penunjukan tempat pembayaran
  • Terdapat penyebutan tanggal dan tempat penarikan dana dari cek
  • Ditandatangani orang yang mengeluarkan cek

Maka dari itu, enam syarat di atas sangat mutlak harus terpenuhi. Jika salah satu tidak ada, maka surat tersebut tidak bisa dikatakan sebagai cek yang sah sesuai aturan pada pasal 179 Ayat (1) KUH Dagang.

Masa Berlaku Cek

Bentuk cek hanya sebatas buku kecil, seperti kwitansi. Namun, ukurannya lebih kecil dan kualitas kertasnya lebih bagus bila dibanding dengan kwitansi.

Mengenai masa berlakunya adalah 70 hari sejak tanggal penarikan. Jika tidak dicairkan setelah 70 hari, maka pemberi cek (penarik) tidak wajib lagi menyediakan dana untuk cek yang bersangkutan.

Namun, jika tidak ada penarikan kembali oleh pemberi cek, maka bank boleh membayarkan setelah berakhirnya masa berlaku cek. Dengan begitu, cek tidak otomatis batal setelah masa berlaku 70 hari terlewatkan. Pemberi (penarik) cek harus mengajukan surat pembatalan pada bank bila tidak ingin melakukan pembayaran kembali.

Lima Jenis Cek

Sebagai alat pembayaran, tentunya terdapat banyak jenis cek yang dikeluarkan. Perbedaan jenisnya ini sekaligus membedakan syarat dan ketentuannya. Di Indonesia terdapat lima jenis cek yang dikeluarkan, diantaranya:

1. Cek Atas Nama

Merupakan cek yang diterbitkan atas nama seseorang atau badan hukum tertentu yang tertulis jelas di dalam cek tersebut. Sebagai contoh jika di dalam cek tertulis perintah bayarlah kepada: Tn. Toni sejumlah Rp3.000.000,- atau bayarlah PT. Maju Jaya uang sejumlah Rp1.000.000,- maka cek inilah yang disebut dengan cek atas nama, namun dengan catatan kata “atau pembawa” di belakang nama yang diperintahkan dicoret.

2. Cek Atas Unjuk

Yang ini merupakan kebalikan dari cek atas nama. Pada cek ini tak tertulis nama seseorang atau badan hukum. Jadi siapa saja dapat menukarkan cek atau dengan kata lain bisa diuangkan oleh siapa saja yang menyerahkan cek ini kepada bank.

3. Cek Silang

Cek silang merupakan cek yang diberi dua tanda silang di sudut pojok kiri atas sehingga cek yang tadinya tunai bisa berubah menjadi nontunai.

4. Cek Mundur

Cek mundur bisa dikatakan sebagai cek yang diberi tanggal mundur dari tanggal sekarang. Sebagai contoh, Pak Rudi menerima cek tanggal 21 Juni 2019, tapi dalam cek tertulis tanggal 26 Juni 2019.

5. Cek Kosong

Cek kosong merupakan cek yang dananya tidak ada di rekening giro. Misalnya, Bapak Feri menerima cek sebesar Rp35 juta sesuai yang tertera pada cek, tetapi dana yang tersedia di giro ternyata hanya Rp30 juta. Artinya, Bapak Feri tidak bisa menarik dana dikarenakan ada kekurangan sebesar Rp5 juta. Kondisi ini dinamakan cek kosong.

Apabila seorang nasabah mengalaminya sampai tiga kali, maka nasabah itu akan dimasukkan ke black list Bank Indonesia (BI). Setelah itu akan disebar ke seluruh perbankan yang ada di Indonesia sehingga yang bersangkutan tidak bisa berhubungan lagi dengan bank manapun.

Apabila bank bisa menutupi kekurangan dengan pertimbangan dia adalah nasabah prioritas yang loyal terhadap bank dan tidak ada unsur kesengajaan, maka bank bisa memberikan fasilitas over draft. Dengan begitu nasabah terhindari dari daftar hitam perbankan.

 

Sumber:

https://id.wikipedia.org/wiki/Cek

https://ajaib.co.id/cek-adalah-alat-tukar-uang-ini-kegunaan-dan-pengertiannya/

https://lifepal.co.id/media/pengertian-cek/