Memberi imbalan atau bayaran kepada seseorang sesuai dengan jasa yang diberikannya kepada kita.

Ju’alah

Seringkali kita mendapatkan seseorang terkena musibah kehilangan barang yang ia miliki, tentunya terdapat berbagai upaya dilakukan untuk mengembalikan barang yang ia punya. Biasanya, pemilik barang membuat pengumuman kepada masyarakat dengan menjanjikan imbalan atau komisi bagi siapa saja yang dapat mengembalikan barangnya. Model muamalah tersebut di dalam Islam dikenal dengan istilah ju’alah.

Apa itu Ju’alah?

Kata ju’alah secara bahasa artinya mengupah. Adapun di dalam Kamus al Bisri kalimat ju’alah berarti hadiah atau persen dan juga berarti komisi. Sedangkan  Wahbah al Zuhaili mendefinisikan ju’alah adalah imbalan untuk seseorang atas suatu pekerjaan atau apa saja yang diberikan seseorang untuk melaksanakan suatu pekerjaan tertentu.

Dalam istilah lain, hal itu dinamakan dengan perjanjian yang berimbalan hadiah.

Dari berbagai definisi tersebut, secara rigkas dapat kita tarik kesimpulan bahwa ju’alah merupakan suatu akad perjanjian untuk memberi imbalan atau bayaran kepada seseorang atas pekerjaan yang telah ia lakukan kepada kita.

Hukum Ju’alah Menurut al Qur’an

Di dalam Al-Quran, Allah SWT menerangkan model aplikasi ju’alah pada kisah Nabi Yusuf a.s beserta saudara-saudaranya. Tepatnya di dalam al-Quran surat Yusuf ayat ke 72, yang artinya:

“Penyeru-penyeru itu berkata, “Kami kehilangan gelas piala raja, dan siapa yang dapat mengembalikannya akan memperoleh bahan makanan (seberat) beban unta, dan aku menjamin terhadapnya”. (QS. Yusuf: 72).

Dalil ju’alah dalam hadis adalah hadis riwayat Imam Bukhari dari Abu Sa’id al Khudri tentang kisah sekelompok sahabat yang sedang safari kemudian me-ruqyah pemimpin sebuah kampung yang digigit ular dengan surat al-Fatihah.

Ketika itu juga mereka menceritakan hal itu kepada Rasullullah, karena takut hadiah yang didapat tidak halal.

Setelah Rasullullah SAW mendengar hal tersebut kemudian beliau bertanya, “Bagaimana kalian tahu bahwa surat al-Fatihah adalah ayat ruqyah? Sungguh tepat sekali apa yang kalian lakukan!”

Kemudian Rasulullah SAW melanjutkan perkataannya. “Sekarang bagilah hasil yang kalian dapatkan dan sertakan aku dalam pembagian tersebut. Maka saat itu tertawalah Rasullullah SAW dengan hal tersebut.” (HR. al Bukhori: 2276).

Hadis inilah yang menjadi dalil yang sangat jelas akan bolehnya ju’alah dalam Islam dan bagi hasil terhadap imbalan yang diberikan. Apa yang dilakukan sahabat tersebut adalah satu amalan yang sama sekali tidak diingkari oleh Rasullullah SAW. Tidak adanya pengingkaran tersebut mengindikasikan bahwa amalan yang sah dan tidak diharamkan dalam Islam.

Syarat-Syarat Ju’alah dalam Islam

Muamalah ju’alah akan menjadi sah jika terpenuhi syarat-syarat sebagai berikut:

  1. Shighat atau akad yang dilafadzkan harus jelas dan mudah dipahami serta berisi janji untuk memberikan imbalan atas amal yang ditentukan. Sebagai contoh: barang siapa yang dapat menghafal 12 juz al-Quran dalam satu tahun, maka baginya imbalan uang Rp15.000.000.
  2. Imbalan yang diberikan jelas dan tidak samar. Maka, tidak boleh seperti “Barangsiapa menemukan mobil saya, akan mendapatkan hadiah yang menarik” hal demikian merupakan akad ju’alah yang rusak, karena imbalan dalam akad tersebut tidak jelas. Begitu juga tidak boleh upah yang dijanjikan dalam ju’alah dari sesuatu yang haram seperti khamr, daging babi, atau barang curian.
  3. Orang yang menjanjikan upah tidak harus mempunyai hajat, namun boleh siapa saja yang bersedia memberikan upahnya.
  4. Pekerjaan yang terkait dengan ju’alah bukanlah pekerjaan yang haram seperti membunuh, mencuri, berjudi, zina, dukun, atau tindakan mendzolimi sesama muslim lainnya.

Konsep Ju’alah dalam Kehidupan Sehari-hari.

Banyak sekali model aplikasi konsep ju’alah dalam berbagai bidang kehidupan sehari-hari kita. Berikut ini terdapat beberapa contoh konsep ju’alah yang dapat diterapkan.

Dalam Dunia Pendidikan

Konsep ju’alah dapat kita terapkan dalam sebuah lembaga pendidikan. Penerapan konsep ini memiliki peran yang sangat signifikan dalam mendongkrak prestasi peserta didik maupun melejitkan potensi para guru. Misalnya, hadiah beasiswa kuliah penuh untuk siswa yang berhasil meraih peringkat 3 besar selama di SLTA.

Dalam Dunia Bisnis

Dalam dunia bisnis konsep ju’alah banyak sekali model penerapannya. Misalnya, ju’alah untuk mendesain logo brand dan kemasan produk yang menarik dari berbagai macam produk barang, atau ju’alah dalam membuat website yang menarik dan mudah diakses untuk memasarkan produk.

Hikmah Ju’alah Dalam Kehidupan Sehari-hari

Apabila kita gali terdapat banyak hikmah ju’alah dalam kehidupan sehari-hari, yang dimana  hikmah dari ju’alah yang dapat kita petik adalah dengan ju’alah dapat memperkuat persaudaraan dan persahabatan, menanamkan sikap saling tolong menolong dan bahu membahu. Dengan ju’alah juga akan terbangun suatu semangat dalam melakukan sesuatu bagi para pekerja.

 

Sumber:

Haryono. Konsep Ju’alah dan Model Aplikasinya Dalam Kehidupan Sehari-Hari. Bogor: STAI Al-Hidayah