Dalam situasi pandemi COVID-19 yang belum pernah dirasakan sebelumnya dan konsekuensinya, banyak dari kita yang merasakan kekhawatiran akan rezeki. Nah, dari pengalaman ini, mungkin kamu bisa memanggil nama-nama Allah berikut: Ar-Razzaaq dan Ar-Raazziq. Yuk, kita simak lebih lanjut apa saja makna nama tersebut!

Ar-Razzaaq

Nama Ar-Razzaaq disebutkan di Quran sebanyak 1 kali;

“Sesungguhnya Allah, Dialah Maha Pemberi Rezeki, Yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh.”

QS Adz-Dzariyat (51) Ayat 58

Dalam buku The Beautiful Names of Allah yang ditulis oleh Muhammad Mustafa Bakri Assyyid, ditegaskan bahwa nama Ar-Razzaaq merujuk kepada pemberian-Nya yang sangat banyak dan rezeki yang dilimpahkan-Nya kepada seluruh makhluk, tanpa perkecualian. Ar-Razzaaq adalah satu-satunya yang bisa memberikan hamba-hambaNya rezeki khusus berupa penghasilan yang halal dan keberkahan iman. Jika ada yang kita butuhkan sekali, salah satu yang bisa kita lakukan adalah memohon pada-Nya dengan memanggil nama Ya Razzaaq dan terus mengulang-ulang ayat Quran tersebut, dengan penuh keyakinan dan keimanan bahwa Dia mampu memberikannya kepada kita.

Ar-Raazziq

Sementara itu, nama Ar-Raazziq disebutkan di dalam Quran sebanyak 5 kali, misalnya di:

“…Berilah kami rezeki, dan Engkaulah sebaik-baik pemberi rezeki.”

QS Al-Maídah (5) AYAT 114

“…Dan sesungguhnya Allah adalah pemberi rezeki terbaik.”

QS Al Hajj (22) ayat 58

“…Allah pemberi rezeki yang terbaik.”

QS Al Jumuah (62) AYAT 11

Ditulis oleh Syaikh Abdur Razzaq bin Abdul Muhsin Al-Badr dalam bukunya Ensiklopedi Asmaul Husna, bahwa Allah SWT kerap mengingatkan manusia di dalam ayat-ayat Al-Quran bahwa Dialah satu-satunya pemberi rezeki dan yang menjamin keperluan makan dan rezeki hamba-Nya. Tujuannya, supaya manusia ingat akan karunia dan anugerah dari Allah, dan mengajak manusia agar selalu taat dan melakukan kebaikan.

Jenis Rezeki yang diberikan oleh Ar-Razzaaq dan Ar-Raazziq

Rezeki yang diberikan Ar-Razzaaq dan Ar-Raazziq terbagi dalam dua kategori, yaitu:

Pertama, rezeki yang bersifat umum, dan bersifat jasmaniah. Rezeki ini diberikan oleh siapapun tanpa terkecuali dan tanpa memandang status.

“Tidak satupun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya…”

QS. Hud (11) AYAT 6

Berlimpahnya rezeki tidak berarti bahwa seseorang memiliki kedudukan mulia di sisi Allah SWT. Demikian pula sebaliknya, kurangnya rezeki yang didapat tidak berarti menandakan dirinya hina di hadapan Allah SWT.

“Maka adapun manusia, apabila Rabb-nya mengujinya, lalu memuliakannya dan memberinya kesenangan, maka dia berkata: “Rabbku telah memuliakanku…” Namun jika Rabb-nya mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata, “Rabbku telah menghinaku.” Sekali-kali tidak!….

QS Al-Fajr (89) AYAT 15-17

“Dan bukanlah harta atau anak-anakmu yang mendekatkan kamu kepada Kami, melainkan orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka itulah yang memperoleh balasan yang berlipat ganda atas apa yang telah mereka kerjakan, dan mereka aman sentosa…”

QS Saba’ (34) ayat 35

Kekayaan dan kemiskinan, keluasan rezeki dan kesempitannya, semua itu adalah cobaan dan ujian, agar diketahui siapa yang bersyukur dan siapa yang kufur, siapa yang sabar dan siapa yang tidak sabar.

Kedua, rezeki yang bersifat khusus, yaitu rezeki yang dilimpahkan kepada hati, berupa ilmu dan iman, termasuk membantu seseorang beramal demi kebaikan agamanya. Rezeki ini khusus diberikan kepada orang beriman, sesuai hikmah dan rahmat-Nya. Pada hari Kiamat, Allah akan menyempurnakan anugerah yang diberikan kepada mereka di dunia, dengan memasukkan mereka ke dalam Surga yang penuh kenikmatan.

Memaknai Ar-Razzaaq dan Ar-Raazziq dalam Keseharian

Mengenal nama Allah Ar-Razzaaq dan Ar-Raazziq memberikan keyakinan kepada diri kita bahwa rezeki kita tidak tergantung siapapun, kecuali Allah SWT. Dengan keyakinan ini, kita jadi tahu siapa yang perlu kita datangi dan kepada siapa kita perlu mengajukan permohonan ketika kita sangat membutuhkan rezeki dalam bentuk apapun, baik jasmani maupun ruhaniah. Kita tidak perlu mendatangi seorang manusia pun dan sebaiknya menyibukkan diri dengan sajadah masing-masing.

Selain itu, juga sebaiknya membuat kita menyadari bahwa kita tidak bisa hanya menyibukkan diri dengan mencari rezeki dunia yang tidak kekal, dengan melupakan rezeki akhirat yang kekal. Kita menjadi lebih banyak disibukkan dengan hal-hal yang menjadi tujuan penciptaan kita dan dalam hal mewujudkan tujuan tersebut, yaitu beribadah kepada Allah dan menyembah kepada-Nya dengan ikhlas, semata-mata karena menjalankan agama.

Semoga kita semua termasuk dalam golongan hamba Allah yang senantiasa menjadikan kesibukan kita semata-mata untuk meraih ridha Allah SWT, Aamiin YRA.

Tagged in: