Bagaimana cara meyakini Allah sebagai Maha Pemberi Rezeki, di tengah berbagai kesulitan yang kita hadapi saat ini? Apa hakikat rezeki sesungguhnya? Bagaimana peta mendapatkan rezeki sesuai anjuran agama Islam? Pertanyaan-pertanyaan tersebut dibahas oleh Ustadz Weemar Aditya, founder dan trainer @Ngefast Hijrah Concept dan komunitas @yukngajiid yang membawakan topik “Meyakini Allah Sebagai Maha Pemberi Rezeki” pada Ramadhan 2020 lalu di acara Kajian Ramadhan ALAMI yang diadakan lewat IG Live Session.

Kajian ALAMI "Meyakini Allah Sebagai Maha Pemberi Rezeki" bersama Ustadz Weemar Adityaa
Ustadz Weemar Aditya

Terjebak Sangkar Sendiri

Seseorang hidup di dalam sangkar namun tidak berbahagia. Tapi, mereka sendiri tidak bisa atau tidak kamu keluar dari sangkar karena mereka sendiri yang membuat sangkar tersebut untuk diri mereka dan memenjarakan diri mereka.

Itulah perumpamaan yang digambarkan oleh Ustadz Weemar Aditya ketika menjelaskan tentang orang-orang yang selalu mengejar rezeki, walaupun mereka sendiri tidak suka untuk melakukan hal tersebut. Namun, ketika dijelaskan bahwa Allah sendiri yang sudah menjamin rezeki mereka, mereka pun masih tetap ragu akan hal tersebut. Inilah potret manusia yang selalu menggunakan rumus atau formula yang menyulitkan diri mereka sendiri, namun mereka pun tidak yakin ketika diminta untuk mengubah rumus/formula itu sendiri.

Meyakini Allah Sebagai Maha Pemberi Rezeki

Bagaimana manusia bisa meyakini Allah sebagai Maha Pemberi Rezeki?

Hal tersebut sudah diberitakan oleh Rasulullah SAW. Salah satunya, di sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Tirmidzi, dari Ibn Umar:

Seandainya kalian benar-benar bertawakkal pada Allah, tentu kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki. Ia pergi di pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali di sore hari dalam keadaan kenyang.

HR. AHMAD & HR TIRMIDZI

Jika kita sudah memasrahkan semua urusan dengan bertawakkal kepada Allah SWT, kita akan hidup dengan ringan seperti seekor burung. Burung tidak pernah menabung, dan yakin bahwa ia akan mempunyai jatah di esok hari.

Bahkan Allah sendiri sudah menyatakan sebagai Maha Pemberi Rezeki di QS Adz-Dzariyat ayat 22 – 23, yang artinya:

“Dan di langit terdapat rezekimu dan terdapat apa yang dijanjikan kepadamu. Maka demi Tuhan langit dan bumi, sesungguhnya yang dijanjikan itu (rezeki) adalah benar-benar (akan terjadi) seperti perkataan yang kamu ucapkan.”

QS Adz-Dzariyat: 22 – 23

Allah bersumpah demi Diri-Nya, Tuhan langit dan bumi, bahwa Allah telah menjamin rezeki manusia, seperti Ia telah membuat kita mampu berbicara tanpa kita meminta dan berusaha.

Konsekuensi Meyakini Allah Sebagai Maha Pemberi Rezeki

Konsekuensinya, sebagai manusia, kita harus meyakini bahwa rezeki adalah suatu pemberian dari Allah. Konsepnya beda dengan “hasil jerih payah kita.” Pahami bahwa rezeki adalah sesuatu yang Allah kasih, bukan yang kita dapatkan.

Konsekuensi kedua, meyakini bahwa rezeki adalah sesuatu yang bisa kita manfaatkan, bukan kepemilikan. Buat apa punya kalau tidak bisa dipakai? Maka, kebanyakan manusia salah memahami esensi rezeki. Kalau kita hidup dengan mengejar “kepemilikan”, maka hidup kita berpotensi lebih stress. Filosofi “minimalisme” yang sedang ngetrend saat ini sangat sesuai dengan konsep yang diajarkan Rasulullah SAW. Kita berusaha untuk fokus kepada barang-barang yang selalu kita pakai setiap saat dan membelinya sesuai keperluan kita saja.

Konsekuensi ketiga, pahami bahwa rezeki bukan berarti uang. Jika uang itu tidak bisa kita manfaatkan untuk barang atau manfaat yang berguna untuk kita, maka tetap saja rezeki tersebut hanyalah apa yang sudah ditetapkan Allah dari jumlah uang tersebut. Sebanyak apapun uang kita, belum tentu Allah mengizinkan kita untuk menikmati sejumlah uang tersebut. Misalnya, seorang manusia yang sibuk mengumpulkan uang, tapi tidak bisa menikmati banyak makanan dari uang tersebut karena berbagai penyakit yang diderita tubuhnya. Atau, seorang manusia yang jumlah uangnya sangat terbatas, namun bisa menikmati berbagai hal yang telah ditakdirkan Allah untuknya, misalnya naik mobil, tinggal di rumah yang nyaman, dan sebagainya. Kenikmatan itu adalah Allah yang atur.

Allah Sebagai Maha Pemberi Rezeki: Awal dari Semua Peta Rezeki

Selanjutnya, jika kita meyakini Allah sebagai Maha Pemberi Rezeki, kita sebaiknya juga memahami bahwa Allah adalah satu-satunya jalan rezeki kita. Namun, ada beberapa cara/medium yang bisa kita tempuh untuk mendapatkannya. Kita bisa berusaha atau tidak. Seperti kita yang dulu tidak pernah bekerja, tetapi tetap mendapatkan rezeki. Kalau kita tidak berusaha, kita tidak akan dihisab atas rezeki yang kita dapatkan.

Kalau kita berusaha, kita akan dihisab. Usaha yang kita jalankan bisa berupa usaha yang halal ataupun yang haram. Kalau kita mendapatkan rezeki dengan jalan usaha yang halal, maka Allah akan memberikan kita pahala. Kalau jalan usaha yang kita tempuh haram, kita akan mendapatkan dosa dan hukumannya. Namun, takaran rezeki yang didapatkannya, akan sesuai dengan apa yang telah digariskan oleh Allah SWT, baik jika kita berusaha atau tidak, menempuh jalan yang halal ataupun yang haram.

Itulah kenapa seorang Muslim harus berpikir apakah sumber penghasilannya halal dan haram. Karena, lebih baik kita menjadikan usaha kita mencari rezeki menjadi pahala, dan agar kita yakin bahwa lebih baik kita tidak berusaha sama sekali dan tidak melakukan apa-apa (sehingga kita tidak dihisab) daripada kita harus mendapatkan rezeki dengan jalan yang haram (karena akan mendapatkan dosa).

Meyakini Allah Sebagai Maha Pemberi Rezeki: Mengubah Jam Kerja Menjadi Pahala

Manusia jarang sekali yang bisa melakukan sholat 7 jam sehari atau membantu orang selama 7 jam. Namun, banyak sekali yang kuat bekerja selama 7 jam, atau bahkan lebih dari itu. Karena kita mempunyai waktu yang sangat terbatas sekali, kita harus memanfaatkan 7 jam, atau berapapun waktu yang kita habiskan dalam sehari untuk bekerja, sebagai jalan pengumpul pahala. Jika kita mencari rezeki dengan jalan yang halal, maka setiap tetesan keringat dan usaha yang kita keluarkan akan menjadi bagian dari pundi-pundi pahala kita di akhirat.

Esensinya, masalah rezeki adalah masalah yang akan menentukan surga atau neraka kita. Kelak, kita akan dibangkitkan di padang mahsyar, dan ditanya tentang empat perkara, dimana salah satunya adalah tentang rezeki yang kita dapatkan, yaitu dari mana kita dapatkan dan untuk apa kita alokasikan rezeki tersebut.

Allah juga telah memberikan ancaman di QS Taubah (9) ayat 24 untuk orang-orang yang masih tetap mendahulukan mendapatkan penghasilan dengan menempuh jalan-jalan yang tidak diridhoi Allah SWT, ketika Allah sudah menganjurkan kita untuk mencari rezeki dengan jalan yang halal.

“Katakanlah: Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya, dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.”

Dengan pemahaman rezeki yang benar, maka kita tidak akan sombong ketika Allah sedang memberikan pundi-pundi rezeki yang banyak, dan tidak akan terlalu panik ketika Allah menahan rezekiNya, karena kita yakin bahwa Ia kelak akan kembali memberikannya di lain waktu.