Setelah menyelesaikan 30 hari puasa di bulan Ramadan, umat Islam disarankan untuk menyempurnakannya dengan 6 hari puasa di bulan Syawal. Puasa di bulan Syawal ini bersifat ibadah sunnah, bukan wajib seperti di bulan Ramadan. Kenapa Allah menyediakan sarana puasa sunnah bulan Syawal untuk kita jalani? Apa pentingnya puasa Syawal? Bagaimana pengucapan niatnya? Bagaimana dengan mereka yang perlu menuntaskan dulu utang puasa Ramadannya? Apakah 6 hari puasa Syawal ini harus dilaksanakan secara berurutan? Yuk, simak pembahasan serba-serbi puasa Syawal di artikel kali ini.

Serba-serbi Puasa Syawal
Sumber gambar: https://infobekasi.co.id via Tebuireng Online

Pentingnya Puasa Syawal

Ibadah sunnah di dalam Islam mempunyai dua tingkatan, yaitu sunnah mu’akkad dan sunnah ghairu mu’akkad. Adapun sunnah mu’akkad, berarti ibadah sunnah yang sangat ditekankan oleh Rasulullah SAW. Artinya, ibadah ini dikerjakan oleh Rasulullah SAW secara rutin dan kontinyu, dan beliau juga memotivasi langsung kepada sahabat-sahabatnya secara lisan agar mereka juga turut merutinkannya.

Selain sunnah mu’akkad, ada juga ibadah yang dikategorikan sebagai ibadah sunnah ghairu mu’akkad. Ibadah ini adalah ibadah yang disarankan oleh Rasulullah SAW secara lisan, namun beliau tidak merutinkannya, karena berbagai alasan, contohnya karena tidak ingin memberatkan umatnya. Misalnya, sholat sunnah empat rakaat sebelum sholat Ashar. Beliau melakukannya dan memotivasi lewat lisan, tapi tidak merutinkannya.

Nah, melaksanakan 6 hari puasa sunnah di bulan Syawal adalah salah satu ibadah sunnah yang dikategorikan sebagai ibadah sunnah mu’akkad. Salah satu motivasi lisan yang diberikan Rasulullah adalah:

“Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadan, kemudian mengikutinya dengan enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa setahun.”

HR Muslim

Di hadits ini, Rasulullah membicarakan tentang pahala satu kebaikan yang dibalas dengan sepuluh pahala. Jika seseorang telah menyempurnakan pahala puasa 30 hari, maka ia akan mempunyai pahala puasa seolah-olah ia telah berpuasa 300 hari (dari 30 x 10). Maka, jika ia menyempurnakannya dengan 6 hari puasa, maka ia telah mempunyai pahala puasa seolah-olah ia telah berpuasa 360 hari, atau dalam kata lain, jumlah hari dalam 1 tahun.

Kenapa kita harus melengkapi ibadah wajib dengan ibadah sunnah? Untuk menjawab pertanyaan ini, Rasulullah SAW juga menjelaskan jawabannya di dalam Hadits Riwayat Abu Dawud dan Ibn Majah:

“Sesungguhnya amalan yang pertama kali dihisab pada manusia di hari kiamat nanti adalah shalat. Allah ‘azza wa jalla berkata kepada malaikat-Nya dan Dia-lah yang lebih tahu, “Lihatlah pada shalat hamba-Ku. Apakah shalatnya sempurna ataukah tidak? Jika shalatnya sempurna, maka akan dicatat baginya pahala yang sempurna. Namun jika dalam shalatnya ada sedikit kekurangan, maka Allah berfirman: Lihatlah, apakah hamba-Ku memiliki amalan sunnah. Jika hamba-Ku memiliki amalan sunnah, Allah berfirman: sempurnakanlah kekurangan yang ada pada amalan wajib dengan amalan sunnahnya.” Kemudian amalan lainnya akan diperlakukan seperti ini.

Sebagai manusia yang banyak kekurangan, pastinya ibadah wajib kita pun akan banyak kekurangan. Bahkan, bisa jadi kita sendiri juga tidak aware dan paham apa saja kekurangan-kekurangan dari ibadah wajib kita. Untuk itulah, maka Allah menyediakan sarana ibadah sunnah, yang berguna untuk menutupi kekurangan-kekurangan di ibadah wajib kita.

Niat Puasa Syawal

Untuk menjalani puasa Syawal, karena puasa ini bersifat sunnah, maka tidak perlu diucapkan dari semalam sebelumnya seperti kita mengucapkan niat puasa Ramadhan. Jadi, kita boleh mengucapkannya setelah ibadah sahur atau di pagi hari.

“Nawaitu shauma hadzal yaumi ‘an ada’i sunnatis Syawwali Lillahi Ta’ala”

Artinya: Aku berniat puasa sunnah Syawal hari ini karena Allah SWT.

Untuk kamu yang tetap ingin mengucapkan niat dari malam sebelumnya, maka hanya perlu mengubah sedikit padanan kalimat di niat, yaitu:

“Nawaitu shauma ghadin an ada’i sunnatis Syawalli Lillahi Ta’ala”

Artinya: Aku berniat puasa sunnah Syawal esok hari karena Allah SWT.

Puasa Syawal & Qadha Puasa Ramadan

Bagaimana dengan mereka yang belum menyelesaikan 30 hari puasa Ramadan, karena halangan menstruasi atau nifas misalnya?

Pendapat mayoritas ulama berpijak pada redaksi hadits di atas yang menyatakan bahwa:

“Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadan, kemudian mengikutinya dengan enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa setahun.”

HR Muslim

Maka, syarat untuk melaksanakan puasa sunnah di bulan Syawal adalah harus selesai berpuasa di bulan Ramadan. Karenanya, mereka yang belum menyelesaikan puasa wajib, harus menyelesaikannya dulu sebelum menunaikan ibadah sunnah. Hakikatnya, ibadah wajib menempati urutan prioritas tertinggi sebelum ibadah sunnah. 

Untuk kamu yang berniat secepatnya mengganti utang puasa wajib Ramadan, maka hendaknya membaca niat:

“Nawaitu shauma ghadin ‘an qadha’i fardhi syahri Ramadhana Lillahi Ta’ala.”

Artinya: Aku berniat untuk mengqadha puasa bulan Ramadan esok hari karena Allah SWT.

Untuk mereka yang ingin menunaikan ibadah puasa Syawal, maka dipersilakan menyelesaikan dulu utang puasa wajib Ramadan. Setelah itu, baru bisa melaksanakannya.

Namun, bagi mereka yang sudah menyelesaikan 30 hari puasa wajib Ramadan, seperti kaum laki-laki atau perempuan yang sudah memasuki masa menopause sehingga tidak berhalangan seharipun selama bulan Ramadan, maka dianjurkan untuk melakukan ibadah puasa sunnah Syawal secepatnya di bulan ini.

Pelaksanaan Puasa Syawal

Mengutip Rumaysho.com, berikut adalah tata cara pelaksanaan puasa Syawal:

  • Lakukan selama enam hari.
  • Bisa mulai dilakukan sehari setelah Idul Fitri atau tanggal 2 Syawal.
  • Lebih utama disegerakan daripada diakhirkan, namun tidak apa-apa jika diakhirkan.
  • Lebih utama dilakukan secara berurutan, namun tidak apa-apa jika dilakukan secara tidak berurutan.
  • Laksanakan puasa Syawal hanya setelah menyelesaikan utang puasa wajib Ramadan.
  • Jika dilaksanakan di tanggal 13, 14, 15, atau dilaksanakan di hari Senin/Kamis, maka akan dapat sekaligus pahala melakukan puasa sunnah Ayyamul Bidh dan puasa sunnah Senin-Kamis. Maka, jangan lupa juga untuk menetapkan niat puasa Ayyamul Bidh atau puasa sunnah Senin-Kamis ketika sedang menunaikan puasa Syawal di tanggal dan hari yang bersangkutan.

Selamat menunaikan puasa sunnah Syawal! Semoga semua ibadah diterima oleh Allah SWT dan mendapatkan pahala terbaik, ya.