Sejak 15 Juni 2020 kemarin, Indonesia sudah mulai menerapkan masa transisi dari Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) menuju tatanan normal baru atau biasa disebut New Normal. Pusat-pusat perbelanjaan mulai dibuka lagi walaupun dengan kapasitas 50%. Hal tersebut dilakukan Pemerintah sebagai upaya pemulihan ekonomi di Indonesia.

“Sebelumnya, Pemerintah fokus pada penanggulangan COVID-19 di sektor kesehatan. Namun, dalam perkembangannya, bahaya keterpurukan ekonomi sudah sama besarnya dengan ancaman kesehatan selama pandemi COVID-19. Sehingga, langkah yang dilakukan adalah menghadapi dan menanggulangi keduanya,” Wakil Presiden K.H. Ma’ruf Amin menjelaskan di artikel ini.

Bagaimana Pemerintah mendukung industri keuangan syariah di saat seperti ini? Apa saja formula yang telah disiapkan oleh para pemain industri keuangan syariah dalam menghadapi tantangan bisnis di era New Normal? Strategi apa saja yang sebaiknya disiapkan oleh industri halal dalam menjalani New Normal? Terus, bagaimana dengan prospek industri fintek syariah sendiri? Yuk, kita bahas di artikel ini!

Upaya dari Pemerintah

Menurut Ma’ruf Amin, ini adalah saat yang tepat untuk institusi keuangan syariah berperan melakukan upaya pemulihan dengan menyiapkan program-program yang realistis. Ia juga menyatakan, sebagai upaya menanggulangi dampak ekonomi, Pemerintah telah menyiapkan program stimulus dan relaksasi, termasuk untuk industri keuangan syariah.

“Kita telah menyiapkan anggaran yang cukup untuk program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) agar ekonomi dan keuangan dapat kita pulihkan kembali,” tuturnya.

Ia juga mengingatkan bahwa institusi keuangan syariah harus tetap dijalankan sesuai dengan kaidah yang berlaku. Yaitu, dengan menjaga fungsi intermediasi antara pihak yang menyimpan dana dengan pihak yang membutuhkan dana, menjaga kesesuaian prinsip syariah dalam operasional bank, dan menjaga citra atau reputasi sebagai bank syariah, agar jangan sampai citra institusi keuangan syariah dianggap buruk karena pengelolaannya yang kurang baik.

Baca Juga  Perkembangan Industri Halal di Indonesia

Strategi Industri Halal

Lebih lanjut, ia juga menghimbau industri syariah untuk tetap produktif agar dapat mendorong pergerakan ekonomi, termasuk ekonomi syariah.

Dalam sebuah webinar nasional yang bertemakan “Ekonomi Syariah di Indonesia: Kebijakan Strategis Pemerintah Menuju New Normal Life”, beliau mengungkapkan bahwa “pemberlakuan tatanan baru membuat aspek kesehatan dan higienitas menjadi hal yang mutlak. Disinilah peran industri halal yang jika diterapkan dengan baik, InsyaaAllah bisa menjadi pilihan,” ujarnya.

Banyak strategi yang dapat ditempuh oleh UMKM pelaku industri halal untuk tetap bertahan di tengah situasi New Normal. Antara lain, dengan turut menyediakan berbagai produk dan jasa terkait kesehatan dan higienitas, misalnya masker, hand sanitizer, dan pelindung wajah (face shield).

Namun, selain itu, semua pelaku ekonomi syariah juga harus menyadari adanya perubahan perilaku masyarakat dan mampu beradaptasi. Kegiatan akan dilakukan dengan jarak jauh, misalnya transaksi perbankan akan lebih fokus dengan layanan internet banking. Sementara, pembelanjaan produk juga akan fokus pada transaksi online. Memahami teknologi digital dan kenyamanan pengguna dalam transaksi online menjadi hal yang mutlak bagi pelaku ekonomi syariah yang ingin mengembangkan ekonomi dan keuangan syariah.

Penting juga diingat bahwa dengan adanya perlambatan ekonomi, masyarakat juga akan menahan dananya untuk berbelanja dan akan lebih selektif dalam membeli. Ini adalah kesempatan untuk pelaku ekonomi syariah untuk lebih serius lagi meningkatkan kualitas produk dan jasanya sehingga bisa terus bersaing dan mendapatkan tempat di hati masyarakat.

Baca Juga  Beli Rumah dengan Akad Musyarakah Mutanaqisah

Formula Bisnis Industri Keuangan Syariah

Menurut Indra Falatehan, Direktur Utama PT Bank BJB Syariah dan Ketua Komite Bidang Sosial dan Komunikasi Pengurus Pusat Asosiasi Bank Syariah Indonesia (ASBISINDO), bank syariah juga bisa menyiapkan sejumlah langkah untuk menghadapi New Normal. Ia pun mengungkapkan berbagai langkah yang bisa diambil dalam berbagai kesempatan.

Pertama, tetap melakukan mitigasi risiko dengan restrukturisasi pembiayaan.

Kedua, tetap memacu pertumbuhan dengan memilih sektor usaha yang masih akan berkembang, misalnya dengan gadai emas.

Ketiga, perbankan syariah mulai memanfaatkan momen ini untuk menguji apakah layanan digital banking akan dimanfaatkan nasabah atau tidak, dan apakah layanan digital yang disediakan sudah cukup untuk memenuhi layanan masyarakat.

Keempat, bank syariah perlu melakukan pendampingan kepada pelaku UMKM untuk membantu mendigitalisasi segmen usaha ini agar tetap hidup.

Kelima, bank syariah harus melakukan inovasi, mulai dari cara menjalankan bisnis sampai memberikan layanan kepada nasabah.

Satu hal yang digarisbawahi oleh Indra adalah kualitas kepemimpinan bank syariah harus lebih cerdas di saat yang sangat krusial seperti ini. Pemimpin harus siap untuk menerapkan agile leadership. “Karena tidak bisa menggunakan cara yang lama, harus cara yang baru agar bisa beradaptasi karena yang menang bukan yang pintar, tapi yang bisa beradaptasi,” ujarnya.

Bank BJB Syariah sendiri juga sudah menyiapkan strategi ekspansi di tengah situasi new normal sesuai dengan langkah-langkah yang disebutkannya di atas.

Baca Juga  Meyakini Allah Sebagai Maha Pemberi Rezeki

Sementara, Direktur Bisnis Bank BRI Syariah Fidry Arnaldy mengungkapkan, strateginya dalam mempertahankan bisnis termasuk mengatur cashflow usaha, melakukan inovasi dan diferensiasi produk, menjalankan strategi marketing baru, menerapkan protokol kesehatan, dan memanfaatkan layanan perbankan digital.

Response New Normal dari Industri Fintech Syariah

Bagaimana dengan industri fintech sendiri? Industri fintech sendiri mengalami kenaikan permintaan pinjaman. Namun, untuk menjaga agar tingkat pengembalian tetap maksimal, pemain fintech dituntut untuk lebih selektif dalam memberikan pinjaman dan menerapkan mitigasi risiko yang didasari oleh prinsip kehati-hatian.

Di tengah kondisi New Normal, industri fintech khususnya P2P banyak menemui oknum yang melakukan manipulasi dengan mengajukan pinjaman usaha, tanpa mempunyai usaha.

Sebagai salah satu pemain industri fintech syariah di Indonesia, ALAMI juga semakin mengetatkan mitigasi risiko, yang detailnya bisa kamu baca di artikel ini.

Itulah gambaran rumusan strategi yang dilakukan oleh berbagai pemain industri keuangan syariah dalam menghadapi New Normal. Bagaimana dengan kamu? Sudah menyiapkan diri untuk kondisi New Normal yang masih tidak menentu ini? Pastikan diri kamu bisa beradaptasi dengan baik untuk semua perubahan yang ada. Penting juga untuk kamu jangan lupa untuk selalu take care and stay healthy!