Selama bulan Ramadan 2020, ALAMI mengadakan sesi diskusi online #RamadanTetapTangguh yang bertujuan memberikan berbagai wawasan yang diperlukan dalam menghadapi realita baru yang hadir di tengah pandemi COVID-19.

Dalam episode kedua #RamadanTetapTangguh, ALAMI bekerjasama dengan Wif World, salah satu perusahaan tekstil di Indonesia, untuk mengadakan kelas ZOOM yang membahas cara mengatur keuangan saat pandemi.

Dima Djani berbagi tips mengatur keuangan

Yakin Rezeki Sudah Diatur Allah

Dalam pembukaannya, Dima mengutip seorang ulama tabi’in (generasi yang hidup setelah para sahabat Nabi) ternama dari Basra, Irak.

“Saya telah membaca 90 kali di Qur’an bahwa Allah telah menentukan rezeki dan menjaminnya untuk makhluk-Nya, dan hanya sekali saya membaca: “Iblis menakut-nakutimu dengan kemiskinan” (di QS Al-Baqarah ayat 268).”

Hasan Al-BASRI

Keyakinan Hasan al-Basri tersebut sebaiknya juga menjadi keyakinan kita ketika menghadapi kekhawatiran tentang mengatur keuangan muncul ketika datang kesulitan seperti situasi pandemi seperti saat ini.

Pentingnya Mengontrol Pengeluaran

Walaupun rezeki telah diatur dan dijamin oleh Allah SWT, kita tetap berkewajiban mengatur keuangan kita sebaik mungkin, melakukan semua yang mungkin kita lakukan untuk “merawat” rezeki yang telah Allah berikan dengan ikhtiar terbaik kita.  Dengan pengaturan keuangan yang baik, kita juga telah memberikan sedikit ketenangan untuk diri kita dalam menghadapi kesulitan.

“Kalau kita tidak bisa mengontrol uang kita, maka khawatir kita akan “kaget” dengan keadaan yang kita hadapi. Jika kita harus meminjam uang dalam keadaan terdesak untuk kepentingan pribadi kita, tentu hal tersebut akan menurunkan harga diri kita. Pada saat sulit, liquidity is king, cash is king, and you don’t want to be in a position to borrow,” ujarnya.

Tentukan Alokasi Pendapatan Terbaik untuk Keadaan Kita

Dalam keadaan normal, alokasi pendapatan yang disarankan adalah membaginya dalam tiga kantung pengeluaran:

  • Kebutuhan seperti makan, sewa rumah, dan kebutuhan anak-anak (jika ada), sekitar 50 % dari pendapatan,
  • Simpanan seperti tabungan dan investasi sebesar 20 % dari pendapatan, dengan persentase 10 % untuk tabungan dan 10 % untuk investasi,
  • Keinginan seperti pengeluaran gaya hidup dan hiburan, sebesar 30 % dari pendapatan.

Namun, dalam keadaan sulit, sudah sebaiknya bahwa kita mengubah persentase yang kita alokasikan untuk setiap kantung pengeluaran. Alokasi keuangan yang disarankan oleh Dima adalah sebagai berikut:

  • Kebutuhan menjadi naik sekitar 65 % dari pendapatan
  • Simpanan menjadi naik sekitar 30 % dari pendapatan
  • Keinginan sebaiknya turun menjadi 5 % dari pendapatan.

Krisis adalah saatnya kita menekan keinginan dan jangan terlalu fokus kepada keinginan, dan menambah alokasi untuk tabungan lebih banyak.  

Dima juga mengingatkan bahwa di saat ini, pendapatan kita pun bisa sangat terpengaruh menjadi jauh lebih menurun daripada sebelumnya.

Misalnya, pendapatan aktif kita lewat gaji bisa terkena potongan. Juga pendapatan pasif seperti deposito, obligasi, saham, dan sebagainya juga bisa jadi stabil, tapi bisa juga jadi menurun.

Untuk mengatasinya, Dima menyarankan bahwa kita bisa meningkatkan kemampuan wirausaha kita untuk meningkatkan jumlah pendapatan yang bisa kita terima. Di saat sulit, kita harus lebih cerdas lagi memutar otak dan memanfaatkan aset-aset yang kita punya dengan lebih kreatif dan melihat peluang yang ada di pasar.

Mengatur Keuangan di Saat Pandemi

Ketika dalam keadaan krisis, Dima menyarankan bahwa kita perlu mengevaluasi return on investment (ROI) dari setiap pengeluaran, atau timbal balik/hasil yang bisa kita terima dari pengeluaran yang kita lakukan.

Tulis semua pengeluaran yang biasa kita lakukan, mulai dari membeli barang di online shop, menyimpannya di deposito atau membeli obligasi, belajar online, saham, membeli barang untuk menciptakan ruang kerja nyaman di rumah, membeli saham, melakukan pendanaan P2P di ALAMI, membeli aset yang murah, sampai membuat bisnis baru dan melakukan sedekah. Kemudian, evaluasi setiap pengeluaran dari lensa ROI-nya, baik untuk diri kita maupun untuk orang lain.

Misalnya saja, sedekah bisa memberikan ROI yang tidak terprediksi, baik untuk diri kita dan orang lain. Begitu juga dengan membuat bisnis baru, khususnya jika kita bisa memberikan pekerjaan untuk orang lain yang sangat membutuhkan. Begitu juga dengan melakukan pendanaan P2P. Selain bisa memberi ROI yang cukup baik untuk diri kita, kita juga bisa memberikan manfaat untuk orang lain.

Sebaliknya, jika kita membeli barang di online shop, bukan saja ROI-nya rendah untuk kita, tapi juga tidak memberikan banyak manfaat kepada orang lain (kecuali tempat kita berbelanja).

Sementara, membeli obligasi atau menciptakan tempat kerja yang nyaman di rumah bisa memberikan ROI medium baik untuk orang lain maupun untuk diri kita sendiri, dan online learning dan membeli aset yang murah bisa memberikan ROI yang tinggi untuk diri kita.

Jika kita sudah mengevaluasinya, maka kita perlu mengambil keputusan untuk fokus mengalokasikan pengeluaran untuk hal-hal yang bisa memberikan kita dan orang lain ROI medium atau tinggi.

Tidak ada waktu yang lebih baik untuk mengatur keuangan kita daripada saat ini. Selain belajar lebih yakin dengan jaminan rezeki dari Allah SWT, kita juga bisa mulai mengalokasikan persentase pendapatan yang lebih besar untuk tabungan dan menekan keinginan, mengutamakan alokasi pengeluaran untuk hal yang memberikan ROI medium atau tinggi, dan menghidupkan jiwa wirausaha kita untuk mendapatkan pendapatan yang lebih tinggi jika diperlukan.

Untuk pembaca yang ingin mulai mengalokasikan pengeluaran yang memberikan ROI yang baik untuk diri sendiri dan orang lain, ALAMI menyediakan platform peer-to-peer financing syariah di Indonesia yang mempertemukan UKM dengan pemberi pembiayaan. Teknologi kami menganalisa ratusan data untuk menghasilkan pembiayaan yang memiliki kualitas dan kredibilitas yang baik. Daftar sekarang untuk menjadi pendana ALAMI dan nikmati kemudahan proses pembiayaan syariah yang lebih efisien, akurat dan transparan.

Advertisements