Riba jadi asal muasal lahirnya berbagai industri keuangan syariah. Seperti Bank Syariah, Koperasi Syariah, dan Peer to Peer Syariah. Hal itu karena industri keuangan konvensional ngejalanin aktivitas keuangannya berdasarkan sistem riba. Sehingga muncullah gerakan ekonomi syariah yang dimulai dari perbankan syariah untuk ngejalanin sistem keuangan yang bebas dari riba. Lalu apa sih sebenernya riba itu?

Secara bahasa riba artinya tumbuh, membesar, atau tambahan. Yaitu berupa manfaat tambahan dari hal yang dilarang dalam Islam. Tambahan manfaat dari hal yang dilarang tersebut ada dua, pertama dari pertukaran barang ribawi dan tambahan waktu pinjaman atau pertukaran. Untuk lebih jelasnya simak penjelasan dibawah.

Secara umum riba dibagi menjadi dua yaitu jual beli dan hutang piutang.

Riba Hutang – Piutang

Riba Qardh

Qardh secara bahasa artinya pinjaman. Jadi riba ini berupa manfaat yang berasal dari pinjaman. Contohnya kita pinjemin uang 10 Ribu ke temen dan syaratnya temen itu harus balikin 11 Ribu minggu depan. Manfaat seribu inilah termasuk riba. Dan manfaat ga harus selalu dengan uang tapi bisa juga misal kita pinjemin 10 ribu dengan syarat setiap pulang kuliah minta anterin pulang. Ini juga termasuk riba. Karena qardh atau pinjaman harus dilandasi dengan tolong-menolong bukan asas dapetin untung atau manfaat.

Riba Jahiliyah

Pada masa jahiliyah dulu ketika peminjam belum mampu melunasi hutangnya, si pemberi pinjaman akan ngasih tempo waktu tambahan dengan syarat bertambahnya nilai pokok pinjaman. Tambahan nilai pinjaman inilah yang menjadi riba jahiliyah. Dinamakan jahiliyah karena merupakan praktek yang sering dilakuin pada masa jahiliyah, yaitu zaman penuh dengan ketidaktahuan atau kebodohan.

Baca Juga  Ibnu Taimiyah - Serial Sang Pemikir Ekonomi Syariah Dunia (Bagian 3)

Riba Jual – Beli

Riba Fadhl

Secara bahasa fadhl artinya kelebihan atau tambahan. Dalam hal ini tambahan atau kelebihan dari pertukaran barang ribawi. Pembahasan tentang barang ribawi ada dibawah ya.

Riba Nasi’ah

Secara bahasa nasi’ah artinya menangguhkan. Dalam hal ini penangguhan waktu dari pertukaran barang ribawi.

Sekarang mari kita bahas mengenai apa aja itu barang-barang ribawi. Salah satu rujukannya adalah hadist berikut:

“Jika emas dijual dengan emas, perak dijual dengan perak, gandum dijual dengan gandum, sya’ir (salah satu jenis gandum) dijual dengan sya’ir, kurma dijual dengan kurma, dan garam dijual dengan garam, maka jumlah (takaran atau timbangan) harus sama dan dibayar kontan (tunai). Barangsiapa menambah atau meminta tambahan, maka ia telah berbuat riba. Orang yang mengambil tambahan tersebut dan orang yang memberinya sama-sama berada dalam dosa.” (HR. Muslim no. 1584)

Para ulama kemudian mengelompokkan barang ribawi tersebut berdasarkan sebab (illat) yang sama. Yaitu Imam Syafi’I, Imam Malik, dan Ibn Taimiyah yang mengelompokkan dengan illah sebagai berikut:

Yuk Cari Tau Mengenai Jenis-Jenis Riba dan Tahapan Pelarangannya 2
Kelompok barang ribawi

Beberapa kaidah fiqih untuk pertukaran barang ribawi, secara ringkas adalah sebagai berikut:

  1. Pertukaran barang dengan jenis dan illat yang sama harus dilakuin dengan syarat sama banyak dan tunai.
    Contohnya menukar emas 100 gram harus dengan emas 100 gram juga dan diserahin pada saat itu juga. Bila ngga sama maka akan masuk kedalam riba fadhl. Contoh lainnya tukar uang 50 ribu rupiah dengan pecahan kecil juga harus 50 ribu rupiah dan diserahin secara tunai.
  2. Pertukaran barang yang beda jenis namun satu illat boleh beda jumlah namun harus dilakuin secara tunai.
    Contohnya menukar sekarung gandum dengan dua karung kurma dan diserahin pada saat itu juga maka ngga termasuk riba. Menjadi riba apabila gandumnya diserahin sekarang tapi kurmanya diserahin seminggu kemudian, hal ini akan masuk kedalam riba nasi’ah.
  3. Pertukaran barang yang berbeda illatnya maka ngga disyaratin tunai maupun ukurannya yang harus sama.
    Contohnya kita bisa menukar sebatang emas dengan sekarung garam dan diserahin dua minggu kemudian. Begitu juga dengan pertukaran barang non ribawi maka ngga disyaratin harus tunai dan ukuran yang sama.
Baca Juga  Perkembangan Industri Halal di Indonesia

Sejarah Pelarangan Riba dalam Syariah

Larangan riba dalam Quran ngga turun secara langsung untuk ninggalin riba secara keseluruhan, melainkan secara bertahap agar masyarakat dapat siap untuk bener-bener ninggalin transaksi riba. Yaitu terdiri dari 4 tahapan.

Tahapan pertama disampein dalam surat Ar-Rum ayat 39 dimana riba disandingin dengan zakat. Disampein kalo riba itu ga nambah pada sisi Allah sementara zakatlah yang akan berlipatganda pahalanya.

“Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia. Maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipatgandakan (pahalanya)” (Qs. Ar-Rum: 39).

Tahapan kedua disampein kalo riba itu adalah hal yang buruk dan Allah telah melarang itu kepada kaum Yahudi. Yang disampein pada surat An-Nisa ayat 160-161.

“Maka disebabkan kedzaliman orang-orang Yahudi, kami haramkan atas mereka (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi manusia dari jalan Allah, dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta orang dengan jalan yang bathil. Kami telah menyediakan orang-orang yang kafir diantara mereka itu siksa yang pedih” (Qs. An-Nisa: 160-161).

Tahapan ketiga, larangan riba yang dilakuin secara berlipat ganda yaitu pada surat Ali-Imran ayat 130. Karena pada masa jahiliyah dulu orang-orang yang berhutang ketika jatuh tempo dan ga bisa ngelunasi pembayarannya maka yang terjadi adalah ditetapin tambahan untuk jangka waktu tertentu disertai tambahan pada nilai pokok. Sehingga nilai prinsipal tertentu menjadi terus bertambah dan berlipat-lipat ketika si peminjam belum mampu melunasi hutangnya.

Baca Juga  Serial Sang Pemikir Ekonomi Syariah Dunia – Bagian 2: Imam al-Ghazali

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapatkan keberuntungan” (Qs. Ali-Imran: 130).

Tahapan keempat atau yang terakhir disampein secara jelas kalo riba pengharamannya adalah secara keseluruhan baik itu nilai yang besar maupun nilai yang kecil bahkan dinyatakan PERANG bagi pelakunya. Yang disampein pada surat Al-Baqoroh ayat 278-279.

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba yang belum dipungut, jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba) maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak pula dianiaya.” (Qs. Al-Baqoroh: 278-279).

Demikianlah artikel dari Mina mengenai apa riba itu. Semoga artikelnya bermanfaat dan kamu jadi lebih paham mengenai apa itu riba, beberapa transaksi yang termasuk didalamnya dan sejarah pelarangan riba dalam syariah. 

Wallahualam Bissawab.

Referensi 

20 Kaidah Memahami Riba.